Budidaya Tanaman Karet

Pengembangan perkebunan karet memberikan peranan penting bagi perekonomian nasional, yaitu sebagai sumber devisa, sumber bahan baku industri......

Kebun Karet Siap Sadap

Dengan bibit dari klon yang unggul umur panen lebih cepat 5-10 bulan dan produksi pada tahun sadap pertama meningkat 110-500 kg/ha/tahun.

Keluarga Ir. H. Dian Kusumanto

Ir. H. Dian Kusumanto, Ir. Hj. Rini Astuti, Alifia Qurata Ayun dan Ghina Arrifah.

Menyadap Pohon Karet

Lateks atau getah karet sangat dekat dipergunakan dalam kehidupan kita. Misalnya untuk produksi kasur busa, sarung tangan karet, alas sepatu, dot bayi, alat pompa pengukur tekanan darah, karet gelang, dan lain-lain. Di industri pangan, penggunaan lateks biasanya untuk produksi sarung tangan karet pada mesin produksi..

Kebun Karet

Jarak Tanam Ideal antar pohon, 3x6 meter mengikuti arah matahari.

Hasil Panen Karet Mentah

Karet Mentah hasil perkebunan kelompok tani Tresnomaju dari Lampung Utara.

Pabrik Karet di Sumut Terkendala Bahan Baku

Pabrik karet Sumut yang sebanyak 57 unit itu terdiri dari pabrik SIR sebanyak 44 unit, pabrik RSS 10 unit dan latex tiga unit.

Bibit Karet Unggul Pak Sutrisno

Sang pembibit Karet Unggul dari Tresnomaju adalah Para Petani dan Penangkar bibit karet yang di bina oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lampung Utara.

Pembekuan Karet Sheet

Pembekuan lateks dilakukan di dalam bak koagulasi dengan menambahkan zat koagulan yang bersifat asam. Pada umunya digunakan larutan asam format/asam semut atau asam asetat /asam cuka dengan konsentrasi 1-2% ke dalam lateks dengan dosis 4 ml/kg karet kering.

BOKAR (bahan olahan karet)

Bau busuk menyengat terjadi juga disebabkan oleh pertumbuhan bakteri pembusuk yang melakukan biodegradasi protein di dalam bokar menjadi amonia dan sulfida.

Bibit Karet Klon Unggul

Dengan bibit Karet dari klon unggul umur mulai produksi lateks lebih cepat dan hasil produksi juga meningkat.

Pembibitan Karet

Pembibitan karet dengan okulasi klon unggul dari Tresnomaju Lampung Utara.

Biji Tanaman Karet

Biji Karet ini untuk calon batang bawah pada pembibitan Karet sistem okulasi.

Gumpalan Lateks Karet

Gumpalan lateks karet dari kebun diangkut menuju tempat penampungan sementara.

Petani Karet sapai tua

Memikil lateks karet dari kebun menuju tempat pengolahan atau penampungan sementara.

Selasa, 29 Mei 2012

VITEX (Vitamin Latex)

VITEX ( Vitamin Latex )


Ukuran 100 gram 
Ukuran 1000 gram



VITEX

Apa itu VITEX™ ?
Vitex™ adalah suatu produk dengan teknologi tinggi yang telah diuji dan diterima di berbagai manca Negara seperti Malaysia, Sri Langka, Thailand, India, Brazil, China, Vietnam, Nigeria dan dalam negeri kita INDONESIA dengan hasil yang memuaskan, produk dengan inovasi baru yang akan meningkatkan hasil sadapan karet anda menjadi dua kali lipat dalam waktu singkat dan mencegah pohon karet anda dari penyakit kekeringan.

Vitex™ bukanlah hormon tetapi merupakan vitamin pohon karet/suplemen yang diperlukan karet untuk menghasilkan getah karet dengan alami tanpa penurunan kualitas DRC (Dry Rubber Content), bahkan vitex™ akan meningkatkan DRC getah karet anda. Dengan biaya yang sangat rendah dan cara penggunaan yang sangat mudah bagi, yaitu dengan hanya dioleskan pada pohon karet.

Vitex™ telah diujikan kelayakan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) dan telah lulus Efikasi dosis yang diajurkan untuk aplikasi Vitex dalam 1 gram/pohon dan produk Vitex™ ini telah memperoleh ijin tetap dari Departemen Pertanian Republik Indonesia dengan No. Pendaftaran Deptan dan mendapat SK Mentan : RI.3007/11-2007/T.

PT. Wahana Agro Sembada, Distributor Tunggal di Indonesia memperkenalkan vitex tahun 2006 dan pertama daerah yang sudah sangat mengenal produk ini adalah pulau Sumatera khususnya Provinsi Sumut, Palembang, Bengkulu, Jambi, Sumbar, sampai ke Nangroe Aceh Darussalam. Bahkan Provinsi ACEH dengan menggunakan dana APBD tahun 2010 ini mereka memesan 750 TON.
 
PERHATIAN !! karena hasilnya yang luar biasa, mulai marak vitex palsu bermunculan, maka diberitahukan kepada seluruh pelanggan bahwa kami hanya mendatangkan vitex ukuran 100 gr dan pesanan khusus dari beberapa agen untuk botol besar isi 1 kg. Kalo ada yang menjual dengan besar botol isi 250 gr maka bisa kami pastikan itu VITEX PALSU !!!!!!!!!
MANFAAT PRODUK VITEX™ :
 
  1. Meningkatkan hasil getah pohon karet menjadi dua kali lipat dalam waktu singkat
  2. Biaya yang sangat rendah
  3. Menyembuhkan dan mencegahkan pohon karet dari kekeringan (KAS)
  4. Meningkat kesehatan pohon karet
  5. Meningkat kadar karet kering (DRC)
  6. Membuat pohon karet panjang umur
  7. Tanpa efek samping
Kenapa membutuhkan VITEX™ ?
 
Vitex™ menyembuhkan dan mencegah pohon karet dari kekeringan (KAS)
Eksplotasi pohon karet secara terus menerus akan menyebabkan pohon karet anda menjadi kering dan akhirnya mati, pemberian pupuk tidak akan merubah kondisi tersebut, apalagi bila penyadapan dilakukan tiap hari, pada kulit pohon karet yang mengalami kekeringan akan menjadi rapuh dan berwarna lebih gelap dari pohon normal pada bekas alur penyadapan. 
 
Biasanya pohon karet yang mengalami kekeringan tersebut akan diistirahatkan selama beberapa waktu, tapi bila tidak nampak hasil yang nyata, maka pohon karet itu biayanya akan ditebang atau akan dibiarkan tanpa terawat.
 
Masalah kekeringan ini dapat diatasi dengan pemberian produk VITEX™, dengan hanya pemberian 1 gram per pohon setiap 10 hari sekali, pemakaian produk ini dapat juga dilakukan pada pohon normal atau sehat untuk mencegah kekeringan pada pohon karet.
 
VITEX™ meningkatkan hasil karet dalam 24 jam
 
Beberapa produk hormon atau stimulan lain yang ada dipasaran memang dapat meningkatkan hasil getah pohon karet menjadi 30%. Tetapi beberapa tes yang dilakukan menunjukkan bahwa pemakaian stimulan akan menurunkan DRC hasil getah pohon karet anda, alasan untuk hal ini sangat mudah untuk dijelaskan, pemakaian hormon untuk pohon karet bukan hanya akan memaksa pohon karet bekerja diluar batas kemampuannya untuk memproduksi getah pohon karet, juga akan menyerap banyak air tanah yang berfungsi untuk menggumpal getah yang dihasilkan.

Masalah besar yang lain adalah hormon tersebut tidak dapat menjaga atau meningkatkan kesehatan pada pohon karet anda, pemakaian hormon yang tidak terkontrol, untuk menghasilkan produksi yang lebih, juga penyadapan terus menerus, akan menimbulkan munculnya berbagai penyakit pada pohon karet seperti jamur, sehingga memperpendek usia dari pohon karet anda.

VITEX™ berkerja dengan cara yang berbeda dengan homon, produk ini adalah vitamin yang akan dapat meningkatkan kesehatan pohon karet anda, dan memberi asupan nutrisi yang diperlukan oleh pohon karet untuk menghasilkan getah karet secara alami sehingga akan memperpanjang masa hidup pohon karet anda. Meskipun hasilnya sudah dapat meningkat dalam waktu 12 jam setelah pengolesan, tetapi penyadapan sebaiknya dilakukan setelah 24 jam sejak pengolesan atau besok harinya.

CARA PEMAKAIAN VITEX™
 
Pada Pohon yang normal :
  1. Lepaskan sisa getah karet yang ada pada pohon karet anda
  2. Gunakan kuas lukis khusus No. 8 ( 2x celupan )
  3. Celupkan kuas ke dalam VITEX™ (1x celup = ½ gram ) aplikasi tiap pohon hanya 1 gram tidak boleh lebih tidak kurang
  4. Oleskan pada bekas deresan/torehan terakhir sepanjang alur sampai zat Vitex yang ada dikuas habis
  5. Pohon karet boleh disadap setelah 24 jam atau esok harinya ( ngoles saat libur nderes )
  6. Pengolesan ini boleh dilakukan walau pada saat musim hujan asal tidak pas sedang hujan ( 3 jam penyerapan vitamin C )
  7. Ingat ! jangan tambahkan air atau zat apapun pada produk Vitex™ yang akan mempengaruhi kualitas produk
  8. Lakukan setiap 10 hari sekali
  9. Anjuran sebulan hanya 10x menderes/menoreh ( pola A B C )

Pada Pohon yang sudah tidak produktif atau kekeringan atau mati sadap :
  1. Buatlah deresan/torehan baru 10-15 cm dibawah bekas deresan yang lama
  2. Oleskan dengan produk Vitex dengan cara yang sama pada pohon yang normal
  3. Lakukan pada hari 0 kemudian hari ke 5 dan hari ke 10 (selama dirawat tidak boleh dideres/ditoreh dulu).
Kemudian hari ke 11 lakukan deresan / Sadapan pertama

Untuk Menjaga Keaslian Produk, Maka Kami Menjual Hanya melalui Agen saja :
Berminat, Hubungi Kami Untuk Daerah Lubuklinggau dan Musi Rawas :
Krismiono
Jl. Tritunggal No.8 RT.21 Megang Sakti I Musi Rawas Sumatera Selatan
HP. 085648060063 / 081332686354


Sumber :  http://agrocrismi.blogspot.com/2010/11/vitex-vitamin-latex.html

INGIN BISNIS BALON LATEX ???

BALON LATEKS / KARET POLOS



DI JUAL BALON LATEX POLOS

1. Balon Latex ukuran 11" :
* Minimal order : 100 balon Rp 2.000 per balon.
* Minimal order : 500 buah balon Rp 1.000 per balon.

2. Balon Latex Metallic 12" :
* Minimal order : 100 - 499 buah balon Rp 2.500 per balon.
* Minimal order : 500 buah balon Rp 1.500 per balon.

4. Balon Latex Panjang :
* Minimal order : 1 - 99 balon Rp 2.000 per balon
* Minimal order : 100 - 499 buah balon Rp 1.500 per balon.
* Minimal order : 500 buah balon Rp 900 per balon.

Keterangan :
1. Berlaku bagi semua warna balon ( kecuali warna hitam ditambah Rp 100)
2. Balon polos tidak mendapatkan warna cetak, stik, cup dan balon dalam keadaan tidak mengembang

Informasi :

* LEVI ( 0878 8794 4000 )





BALON LATEKS / KARET POLOS 
Sumber : http://jasa.tokobagus.com/peluang-bisnis/marketing-pr/balon-lateks-karet-polos-9261392.html

Olahan Produk Karet untuk Komersial : Sabutret, Flinkote dan Karet Busa Alam


(Artikel dari BTPK Bogor)  

Pengembangan  Serat Sabut Kelapa Berkaret (Sebutret)
 
Potensi 1,1 juta ton sabut setiap tahun belum dimanfaatkan, bahkan di beberapa daerah masih dianggap sebagai limbah. Serat sabut kelapa sangat ulet dan tahan air sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan keset dan tambang. Serat sabut kelapa juga tahan patah dan cukup lentur jika terkena tekanan dan tekukan berulang, sehingga banyak digunakan untuk pelapis bagian atas per pada kasur pegas dan jok mobil. 


Penggunaan serat sabut kelapa sebagai pelapis atau bantalan, di mana setiap serat sabut disusun lurus atau bersilang, sering timbul masalah yakni tumpukan serat mudah terurai dan sifat lenturnya berkurang atau hilang. BPTK Bogor berhasil mengatasinya dengan cara mengeritingkan sabut dan melapisi permukaannya dengan lapisan tipis karet untuk menstabilkan bentuk, menambah keuletan, dan meningkatkan kelenturan tumpukan serat sabut.

Kapasitas alsin untuk memproduksi sebutret bervariasi, bergantung pada bentuk sebutret. Sebagai contoh, untuk memproduksi sebutret bentuk jok, kapasitasnya mencapai12 jok berukuran 56 cm x 56 cm x 13 cm per hari (8 jam kerja efektif) atau 3.600 jok/tahun (1 tahun=300 hari kerja).
Biaya produksi diperkirakan sekitar Rp103 juta/tahun. Dengan harga jual jok Rp53.000/buah, pemasukan mencapai Rp190 juta. Pemasukan tersebut dapat ditingkatkan dengan menambah jam kerja atau kapasitas produksinya.

Flinkote Berbasis Karet Alam


Flinkote merupakan bahan pelapis antibocor dan antikarat yang telah lama memasyarakat. Pelapis antibocor  komersial seperti Aqua-seal, Aqua-proof, dan Multiguard umumnya digunakan dengan mengoleskannya secara tipis pada bahan, bersifat tidak lengket dan kurang elastis jika sudah kering serta mudah terkelupas jika kena goresan. 


Flinkote dapat dioleskan dengan lapisan cukup tebal, lebih viskos, relatif tahan goresan, dan masih tetap elastis walaupun sudah kering. Oleh karena itu, untuk keperluan tertentu flinkote lebih disukai karena lebih tahan lama terutama sebagai pelapis antikarat dan antibocor, serta untuk melindungi bodi dan rangka bagian bawah kendaraan dan atap bangunan dari air hujan.
 

Kebutuhan flinkote di dalam negeri diperkirakan mencapai 5.000 t/tahun. Flinkote beredar di pasaran dalam berbagai nama dagang antara lain Seip007, UPC two, dan Supersilcoate, dengan harga Rp8.000-Rp24.000/kg. 

Berdasarkan pertimbangan kedekatan sifat fisiko-kimianya, karet alam berpotensi menggantikan karet sintesis sebagai bahan dasar flinkote. BPTK Bogor telah melakukan serangkaian penelitian untuk menghasilkan paket teknologi pembuatan flinkote berbasis campuran aspal dan karet alam, termasuk alsin manufakturnya.

Karet Busa Alam


Sebelum ada karet sintetis, karet busa dibuat dari lateks alam. Karet busa banyak dikonsumsi untuk berbagai keperluan seperti kasur, bantal, jok, komponen sepatu, penyekat, dan pelapis bagian dalam jaket. Karena harga karet sintetis lebih murah dibanding lateks alam maka busa dari lateks alam pun makin ditinggalkan. Busa sintetis umumnya dibuat dari karet EVA/poliuretan dan plastik. 

Konsumsi busa sintetis di dalam negeri tahun 2000 mencapai hampir 19 juta lembar senilai Rp46,8 miliar, busa plastik 722.000 m (nilai Rp665,5 juta), dan busa untuk jok kendaraan bermotor sebanyak 4.303 unit (nilai Rp186, 3 juta). Dibanding busa sintetis, busa alam lebih unggul dalam kenyamanan dan umur pakai, karena ketahanan sobek, tegangan putus, dan pampatan tetapnya jauh lebih baik. 

Untuk memberikan nilai kepegasan yang sama, busa alam hanya memerlukan ketebalan sepertiga dari busa sintetis. Selain kurang nyaman dan kurang awet, proses pembuatan karet busa sintetis juga berisiko tinggi karena bahan bakunya (isosianat) beracun dan bersifat karsinogenik. Oleh karena itu, permintaan terhadap karet busa alam cenderung meningkat terutama untuk perlengkapan tidur dan jok mobil. 

Selain diproduksi oleh perusahaan yang telah lama ada, berbagai merek kasur dan bantal dari karet busa alam pun kini bermunculan. Industri yang memproduksi busa alam umumnya merupakan industri besar, karena untuk memproduksi busa alam diperlukan investasi peralatan yang cukup mahal dan sebagian masih diimpor. 

Untuk meningkatkan kinerja industri barang jadi lateks berskala UKM, pada tahun 2002 BPTK Bogor telah berhasil merancang bangun alsin karet busa berkapasitas10-15 bantal/hari (8-12 jam kerja efektif). Harga jual bantal berkisar Rp50.000-Rp75.000 atau sesuai pesanan. Harga jual bantal sebenarnya masih berpeluang untuk ditingkatkan mengingat produk serupa bermerek terkenal dijual dengan harga Rp200.000-Rp280.000. Produk terutama dipasarkan untuk ekspor dan kalangan eksklusif serta hotel-hotel berbintang.

Sumber : http://karetalam.com/article/lump

Perhitungan Keuntungan Usaha Karet

Executive Summary
Dengan harga karet 1.5 US dollars per kg , keuntungan bersih bisa mencapai 31% dari modal awal. Pada Tahun 2010 ini harga karet lebih dari 3.0 dollar per kg. Tunggu apa lagi?
Berikut ini perhitungan detail mengenai keuntungan yang bisa didapat.

Estimasi Produksi
Produksi lateks per satuan luas dalam kurun waktu tertentu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain klon karet yang digunakan, kesesuaian lahan dan agroklimatologi, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan, sistem dan manajemen sadap, dan lainnya. Dengan asumsi bahwa pengelolaan kebun plasma dapat memenuhi seluruh kriteria yang dengan dikemukakan dalam kultur tehnis karet diatas, maka estimasi produksi dapat dilakukan dengan mengacu pada standar produksi yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan setempat atau

Balai Penelitian Perkebunan yang bersangkutan.

Karena produksi kebun karet adalah lateks, maka estimasi produksi per hektar per tahun dikonversikan ke dalam satuan getah karet basah seperti pada Tabel berikut :
 
Tabel 5. Proyeksi Produksi Karet Kering dan Estimasi Produksi Lateks

Tahun

Estimasi Produksi KKK (ton/ha)
Estimasi Produksi Lateks (liter/ha)
Umur (Th)
Sadap


6
1
500
2,000
7
2
1,150
4,600
8
3
1,400
5,600
9
4
1,600
6,400
10
5
1,750
7,000
11
6
1,850
7,400
12
7
2,200
8,800
13
8
2,300
9,200
14
9
2,350
9,400
15
10
2,300
9,200
16
11
2,150
8,600
17
12
2,100
8,400
18
13
2,000
8,000
19
14
1,900
7,600
20
15
1,800
7,200
21
16
1,650
6,600
22
17
1,550
6,200
23
18
1,450
5,800
24
19
1,400
5,600
25
20
1,350
5,400
26
21
1,200
4,800
27
22
1,000
4,600
28
23
1,150
4,000
29
24
850
3,400
30
25

Penurunan Produksi akibat curah hujan tinggi dan anomali iklim

Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) memprediksikan produksi karet pada tahun ini hanya 2,95 juta ton sama dengan tahun lalu, karena curah hujan cukup tinggi dan anomali iklim. Ketua Umum Gapkindo Asril Sutan Amir mengatakan jika produksi karet 2012 hanya 2,95 juta ton, maka untuk kebutuhan domestik sekitar 480.000-500.000 ton, sedangkan dieskpor 2,4 juta-2,5 juta ton.

“Sepertinya target produksi karet tahun ini 3 juta ton tidak akan tercapai. Kami memperkirakan produksi 2,95 juta ton, cenderung turun. Di negara lain seperti Thailand dan Malaysia, produksi karet juga cenderung turun,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu, 14 Maret 2012.

Dia menambahkan belum ada penambahan pabrik pengolahan karet alam di dalam negeri. Saat ini, kapasitas pabrik pengolahan karet alam di Indonesia sekitar 4,4 juta ton, tetapi baru terpakai 2,9 juta ton, sehingga masih ada kapaistas tidak terpakai sekitar 1,5 juta ton. Dia mengatakan salah satu persoalan karet saat ini produktivitas masih rendah hanya sekitar 0,8 ton per ha, sedangkan produktivitas karet di Thailand mencapai 1,5 ton per ha per tahun.

 Asril optimistis produktivitas karet domestik dapat ditingkatkan menjadi 1,5 ton per ha selama lima tahun ke depan. Data Kementerian Pertanian mencatat laju pertumbuhan luas perkebunan karet dalam 3 tahun terakhir 0,27%, sedangkan rata-rata pertumbuhan produksi karet 1,28% per tahun. Artinya, ada peningkatan produktivitas karet. Luas perkebunan karet pada tahun lalu diperkirakan 3,45 juta hektare dengan produksi 3,09 juta ton.

Sementara itu, revitalisasi perkebunan karet sangat rendah yaitu pelaksanaan penanaman kembali (replanting) sejak 2000 sampai Agustus 2011 hanya 60.700 hektare dan penambahan lahan baru dalam periode yang sama hanya 11.000 ha.(msb)

Oleh : Gapkindo Asril Sutan Amir
(Sumber : bisnis.com)

Sumber : http://karetalam.com/article/prod2012jan

KAJIAN MODEL DIFUSI INOVASI TEKNOLOGI PENYADAPAN KARET PADA MUSIM HUJAN UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI LATEKS DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU

KAJIAN MODEL DIFUSI INOVASI TEKNOLOGI PENYADAPAN KARET PADA MUSIM HUJAN UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI LATEKS DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Budidaya karet alam Havea brasiliensis merupakan salah satu sumber perekonomian pedesaan, permintaan dan kegunaannya cendrung meningkat, sehingga memiliki prospek yang cerah dikembangkan. Oleh sebab itu upaya peningkatan produksi usaha tani karet yakni lateks terus dilaksanakan.

Lateks sebagai bahan baku  berbagai hasil karet, harus memiliki kualitas yang baik dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: faktor klon, iklim, alat-alat  dan bahan-bahan kimia yang digunakan, pengangkutan, serta  managemen.   Di Provinsi Kepulauan Riau, komoditi karet dari sektor perkebunan merupakan komoditas yang berpotensi dikembangkan dengan luas lahan tanaman menghasilkan 34.891 ha, umumnya adalah kebun karet rakyat. 

Hasil pengamatan di lapangan bahwa kebun karet rakyat dihadapkan pada produktivitas lateks relative masih rendah (< 600 kg/ha/tahun), khususnya dimusim hujan. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut akan dilakukan Kajian Model Difusi Inovasi Teknologi Penyadapan Karet di Musim Hujan untuk Peningkatan Produksi Lateks di Provinsi Kepulauan Riau. Diperkirakan   melalui inovasi teknologi stimulan  gas Ethyline/Gas Hevea3 dan inovasi teknologi stimulan bawang merah dapat meningkatkan produksi lateks.

Lokasi kegiatan akan dilakukan di Kabupaten Karimun di lahan petani pada bulan Februari – September 2012. Sampel tanaman karet berumur > 15 tahun dengan jumlah pohon per model dan jumlah petani kooperator ditentukan secara pourposive random sampling. 

Rencana petani kooperator  berjumlah 3 kelompok (model petani, model stimulant gas ethylene dan model stimulan bawang merah). Terhadap lateks yang dihasilkan akan dilakukan analisa kandungan lateks segar dan lateks kering (kandungan karet, Resin, Protein, abu, zat gula dan air).

Pengamatan produksi lateks pada saat curah dan hari hujan tinggi dan rendah diukur berat lateks/pohon/panen pada setiap model yang diamati. Data- data yang terkumpul direkapitulasi dan diolah secara sederhana dengan menggunakan worksheet MS-Excel dan disajikan dalam bentuk gambar atau grafik dan data ekonomi untuk setiap model yang dikaji diananlisis secara farsial. Diharapkan melalui kajian ini diperoleh satu model inovasi teknologi peningkatan produksi lateks pada musim hujan dengan produktivitas lateks >800 kg /ha/tahun yang lebih responsive.

Ir. Dorlan Sipahutar, MP

Sumber : http://pkpp.ristek.go.id/index.php/penelitian/detail/762

PENETAPAN 3 (TIGA) STANDAR NASIONAL INDONESIA KEPALA BADAN STANDARDISASI NASIONAL,

KEPUTUSAN KEPALA BADAN STANDARDISASI NASIONAL
NOMOR 62/KEP/BSN/4/2012

TENTANG

PENETAPAN 3 (TIGA) STANDAR NASIONAL INDONESIA
KEPALA BADAN STANDARDISASI NASIONAL,

Menimbang :

a.  bahwa untuk memenuhi kepentingan perlindungan terhadap konsumen, pelaku usaha, tenaga kerja, masyarakat lainnya, mengembangkan tumbuhnya persaingan yang sehat, keselamatan, keamanan, kesehatan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup, Rancangan Akhir Standar Nasional Indonesia (RASNI) yang disusun oleh Panitia Teknis perlu ditetapkan menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI);

b.  bahwa Rancangan Akhir Standar Nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam huruf a, telah dikonsensuskan dan dinyatakan memenuhi persyaratan untuk ditetapkan menjadi Standar Nasional Indonesia;

c.  bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Standardisasi Nasional tentang Penetapan 3 (tiga) Standar Nasional Indonesia;

Mengingat :

1.  Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 199, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4020);

2.  Keputusan Presiden Nomor 13/M Tahun 2008 tentang Pengangkatan Kepala Badan Standardisasi Nasional;

Memperhatikan :

Surat Kepala Pusat Standardisasi, Badan Pengkajian Kebijakan Ikilm dan Mutu Industri, Kementerian Perindustrian; Nomor: 84/BPKIMI.2/2/2012 tanggal 6 Februari 2012, Perihal RSNI Hasil Rapat Konsensus PT 83-01;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan :

KEPUTUSAN KEPALA BADAN STANDARDISASI NASIONAL TENTANG PENETAPAN 3 (TIGA) STANDAR NASIONAL INDONESIA.

PERTAMA :   Menetapkan 3 (tiga) Standar Nasional Indonesia sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.
KEDUA :   Dokumen Standar Nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam diktum PERTAMA merupakan satu kesatuan dan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini.
KETIGA :  Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 27 April 2012
KEPALA BADAN STANDARDISASI NASIONAL,

ttd

BAMBANG SETIADI


LAMPIRAN...


KEPUTUSAN KEPALA BADAN STANDARDISASI NASIONAL 
NOMOR : 62/KEP/BSN/4/2012
TANGGAL : 27 April 2012
DAFTAR PENETAPAN 3 (TIGA) STANDAR NASIONAL INDONESIA

Nomor urut
Nomor Standar Nasional Indonesia
Judul Standar Nasional Indonesia
(1) (1)
(2)
(3)

1.  SNI ISO 127:2012   Karet, lateks pekat alam – Penentuan bilangan KOH Rubber, natural lateks concentrats – Determination of KOH number (ISO 127:1995/Amd1:2006, IDT)
2.  SNI ISO 706:2012   Lateks karet – Penentuan kadar koagulum (residu penyaringan) Rubber latex – Determination of coagulum content (sieve residue) (ISO 706:2004, IDT)
3.  SNI ISO 1802:2012   Lateks pekat karet alam – Penentuan kadar asam borat Natural rubber latex concentrate – Determination of boric acid content (ISO 1802:1992, IDT))

KEPALA BADAN STANDARDISASI NASIONAL,

ttd

BAMBANG SETIADI


Sumber : http://jdih.bsn.go.id/index.php?option=com_remository&Itemid=54&func=startdown&id=1369

Alergi Lateks, Manifestasi Klinis dan Penanganan Terkini

Alergi Lateks, Manifestasi Klinis dan Penanganan Terkini

Alergi terhadap lateks karet alam semakin umum dan serius pada anak-anak dan orang dewasa. Alergi lateks adalah reaksi hipersensitivitas terhadap protein yang ditemukan dalam lateks karet alam.  Lateks adalah cairan putih susu yang diekstrak dari pohon karet Hevea brasiliensis yang berisi bahan karet cis-1, 4 polyisoprene. Bahan ini terutama terdiri dari cis -1,4-polyisoprene, polimer organik yang memberikan sebagian besar kekuatan dan elastisitas lateks. Juga terkandung  berbagai macam gula, lipid, asam nukleat, dan protein yang sangat alergi.
Lebih dari 200 polipeptida telah diisolasi dari lateks. Protein lateks bervariasi dalam potensi alergi. Kadar protein bervariasi dengan lokasi panen dan proses manufaktur. Pengetahuan dasar tentang proses fabrikasi yang membantu dalam memahami masalah medis yang berhubungan dengan paparan lateks

Karet dan produk yang terbuat dari karet mengandung jumlah protein tinggi. Orang dengan Alergi lateks mengalami reaksi Alergi disebabkan oleh protein dalam produk-produk karet. Lateks gejala alergi bisa ringan atau berat dan akan menyebabkan banyak masalah bagi orang-orang dengan alergi ini, karena saat ini banyak produk yang mengandung Karet.

Produk yang dibuat dengan karet elastis lembut seperti yang digunakan dalam sarung tangan karet lateks menyebabkan masalah yang paling. Karet lunak menyebabkan reaksi alergi lebih dari Karet keras yang digunakan misalnya di ban mobil. Karet lunak seperti sarung tangan dan balon yang dilapisi dengan lapisan tipis tepung jagung untuk membuat mereka lebih mudah digunakan. Partikel karet menempel pati ini dan terbang melalui udara ketika pembungkus yang berisi produk karet dibuka. Di tempat-tempat di mana sarung tangan karet diletakkan pada sering seperti rumah sakit, udara kadan mengandung partikel debu karet kecil.

Lateks yang baru dipanen dari Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Amerika Selatan diproduksi dengan amonia dan pengawet lainnya untuk mencegah kerusakan selama pengangkutan ke pabrik. Lateks diobati dengan antioksidan dan akselerator termasuk thiurams, karbamat, dan mercaptobenzothiazoles. Hal ini kemudian dibentuk menjadi objek yang diinginkan dan divulkanisir untuk menghasilkan disulfida silang molekul lateks.

Setelah dikeringkan dan dibilas untuk mengurangi protein dan kotoran, produk sering kering-dilumasi dengan tepung jagung atau bubuk bedak. Bubuk partikel cepat menyerap protein lateks sisa; protein lain tetap dalam bentuk yang larut pada permukaan produk jadi.

Lateks banyak digunakan dalam kehidupan masyarakat modern dan khususnya dalam perawatan kesehatan. William Halstead pertama kali digunakan sarung tangan karet bedah pada tahun 1890. Lateks telah digunakan dalam berbagai perangkat medis selama beberapa dekade. Pada akhir 1980-an, bagaimanapun, penggunaannya meroket sebagai sarung tangan karet yang banyak direkomendasikan untuk mencegah penularan patogen melalui darah, termasuk human immunodeficiency virus (HIV). Miliaran pasang sarung tangan medis yang diimpor ke Amerika Serikat pada setiap tahun, sering sebagai bubuk, sarung tangan pemeriksaan steril.

Pada 1980-an dan 1990-an, permintaan tinggi untuk lateks untuk memproduksi sarung tangan dan benda lainnya mengakibatkan ratusan baru, kurang diatur pabrik lateks di negara-negara tropis. Insiden reaksi alergi ringan dan serius terhadap lateks mulai meningkat dengan cepat di antara pasien dan petugas kesehatan (petugas kesehatan).  Sensitisasi Lateks dapat terjadi setelah kulit atau kontak mukosa, setelah kontak peritoneal selama operasi, dan mungkin setelah menghirup partikel aerosol dengan lateks pada permukaannya.

Sebagai produk lateks yang banyak digunakan di mana-mana dan seseorang dapat mengembangkan Alergi terhadap lateks pada setiap titik dalam kehidupan mereka, siapa pun bisa menderita alergi ini. Namun, Orang-orang di profesi medis lebih mungkin terjadi Alergi lateks sarung tangan. Pekerja kesehatan yang sudah menderita demam lebih mungkin untuk mengembangkan Alergi terhadap lateks, karena mereka lebih rentan terhadap Alergi pada umumnya. Orang yang memiliki beberapa operasi yang dilakukan pada mereka menjalankan sebuah resiko lebih tinggi mengalami Alergi ini dan orang-orang dengan spina bifida lebih mungkin berakhir membutuhkan pengobatan Alergi lateks.

Alergi adalah  respon imun sekunder yang disebabkan oleh adanya senyawa tertentu (disebut  alergen) yang dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan. Alergen umumnya berupa protein terlarut atau glikoprotein  yang berasal dari beberapa jenis sumber alergen a.l: protein dari tepung sari,  bisa serangga, spora jamur, cacing, tungau, vaksin dan obat serta makanan (ikan,  udang, putih telur, susu dll.). Reaksi alergi tidak  terjadi pada semua individu tetapi hanya terjadi pada individu tertentu yang  secara genetis alergi terhadap suatu alergen. Reaksi  alergi oleh protein lateks dapat terjadi melalui kontak kulit  atau mukosa dan  berlangsung cepat yaitu dalam beberapa menit sampai beberapa jam setelah penderita terpapar antigen  yang ditandai gejala pembengkakan atau kulit memerah, hidung dan mata berair,  kram perut, sulit bernafas, tekanan darah menurun dan  pasien mengalami guncangan (anafilaksis)   yang berpotensi menimbulkan kematian.

Patofisiologi
Paparan Lateks  dikaitkan dengan 3 sindrom klinis.
  • Sindrom pertama adalah dermatitis iritan. Ini adalah hasil dari gangguan mekanik pada kulit akibat gesekan dari sarung tangan dan menyumbang mayoritas lateks-induced ruam kulit lokal. Hal ini tidak dimediasi kekebalan tubuh, tidak terkait dengan komplikasi alergi, dan bukan subjek artikel ini. Hal ini sulit dibedakan dengan hipersensitivitas Tipe IV . Setiap dermatitis kronis pada tangan petugas kesehatan meningkatkan risiko infeksi nosokomial, termasuk patogen melalui darah.
  • Sindrom kedua adalah reaksi hipersensitivitas tiope lambat  (IV tipe) , mengakibatkan dermatitis kontak yang khas. Gejala biasanya berkembang dalam waktu 24-48 jam paparan membran kulit atau mukosa terhadap lateks pada orang peka. Alergen utama adalah akselerator residu dan antioksidan tersisa dari proses manufaktur asli. Langerhans sel memproses antigen dan membawa mereka ke sel T kulit. Beberapa objek dapat menyebabkan sensitisasi, tetapi sumber yang paling umum di negara ini mungkin sarung tangan pemeriksaan untuk orang dewasa dan sol sepatu untuk anak-anak. Hipersensitivitas tipe IV lebih sering terjadi pada individu atopik. Dermatitis dapat mempengaruhi pasien untuk sensitizations lebih lanjut atau infeksi.
  • Sindrom ketiga, yang paling serius, dan paling umum adalah hipersensitivitas  segera (tipe I) . Hal ini dimediasi oleh respon imunoglobulin E (IgE) spesifik untuk protein lateks. Sebagaimana dicatat, protein lateks sangat alergi, dan mereka adalah variabel antara banyak dari perkebunan yang berbeda, pabrik, dan produsen. Silang molekul IgE pada sel mast dan membran sel basofil oleh alergen protein lateks memicu pelepasan histamin dan mediator lain dari kaskade alergi sistemik pada individu yang tersensitisasi
  • Paparan dapat terjadi berikut kulit, selaput lendir, atau visceral / peritoneum kontak. Hal ini juga dapat mengikuti menghirup partikel lateks bermuatan atau paparan aliran darah untuk protein lateks larut mengikuti prosedur akses intravaskular. Bubuk sarung tangan lateks pemeriksaan telah menjadi sumber yang paling sering sensitisasi pada orang dewasa, menyebabkan eksposur kulit dan hirup. (Untungnya, penggunaannya menurun karena banyak rumah sakit bergerak menuju bubuk bebas, “rendah-alergi,” atau sarung tangan nonlatex produk.
  • Sensitisasi lebih sering terjadi pada individu atopik. Gejala umumnya mulai dalam beberapa menit pemaparan. Spektrum manifestasi klinis termasuk urtikaria lokal atau generalisata, rinitis, konjungtivitis, bronkospasme, spasme laring, hipotensi, dan full-blown anafilaksis. Tipe I alergi telah terlibat jelas dalam intraoperatif dan intraprocedure anafilaksis, dan dapat berakibat fatal tanpa pengobatan muncul. [7]
Epidemiologi
  • Alergi lateks terjadi pada sekitar 1-5% dari populasi umum, dengan prevalensi meningkat pada individu atopik. Lateks alergi meningkat pada populasi dengan pajanan kronis lateks. Hal ini ditemukan dalam 2-17% dari petugas kesehatan dan setidaknya 10% dari pekerja industri karet. Gejala alergi lateks telah dijelaskan dalam 14% dari kelompok penyedia EMS dan pada 54% dari staf ED anak.  Atopi meningkatkan risiko sensitisasi kerja.
  • Prevalensi tertinggi alergi lateks (20-68%) ditemukan pada pasien dengan spina bifida atau kelainan urogenital bawaan. Sensitisasi pada pasien inii pada beberapa saluran kemih, prosedur rektal, dan teka, serta beberapa operasi selama anak usia dini. Pasien dengan spina bifida juga mungkin memiliki kecenderungan genetik untuk sensitisasi lateks. Pasien dengan spina bifida dan antigen leukosit manusia (HLA) alel DRB dan DQB1 lebih mungkin memiliki respon IgE spesifik terhadap antigen lateks umum. Sekali lagi, dalam kelompok risiko, anak-anak atopik akan meningkatkan risiko.
  • Pasien lain dengan sejarah beberapa pembedahan atau lateks mengekspos prosedur juga berisiko meningkat relatif terhadap populasi umum. Pasien dengan cerebral palsy, retardasi mental, atau quadriplegia juga tampaknya memiliki peningkatan risiko alergi lateks, mungkin karena eksposur medis berulang.
  • Prevalensi alergi lateks meningkat pada orang dengan alergi terhadap alpukat, pisang, cokelat, kiwi, pepaya, peach, nectarine atau. Cross-reaksi antigen telah ditemukan antara buah-buahan tropis dan lateks.
  • Pola risiko yang dijelaskan di atas adalah sama di negara-negara maju lainnya. Satu penelitian dari Jerman menunjukkan bahwa kejadian alergi lateks tipe I telah meningkat lebih cepat baru-baru ini di antara petugas kesehatan dari hipersensitivitas tipe IV, mungkin karena perubahan terakhir manufaktur yang mengurangi paparan akselerator tetapi tidak untuk protein lateks.
  • Sebuah meta-analisis ini dari literatur Perancis membenarkan bahwa petugas kesehatan memiliki peningkatan risiko sensitisasi dan gejala alergi terhadap lateks. Pekerja dengan pajanan selama lateks alam atau pengolahan di negara-negara berkembang di mana H brasiliensis ditanam memiliki peningkatan risiko relatif terhadap populasi umum
  • Pasien dengan hipersensitivitas tipe I beresiko terkena anafilaksis dan / atau obstruksi pernapasan, yang bisa berakibat fatal.
  • Kematian telah dilaporkan setelah penggunaan intraoperatif kateter lateks dubur. Lateks anafilaksis terjadi setelah melahirkan, instrumentasi, injeksi intravena, balon bertiup, dan penggunaan kondom.
  • Meskipun kebanyakan pasien dapat diobati secara efektif untuk tipe IV dan tipe I reaksi tanpa gejala sisa klinis, alergi utama dapat mencegah mereka mengejar karir tertentu, menggunakan banyak rumah tangga dan benda kerja, dan mencari perawatan medis tepat waktu karena takut dibenarkan paparan lateks. Insiden pada pria dan wanita adalah sama. Alergi lateks mungkin lebih sering terjadi pada anak-anak dan orang dewasa yang bekerja lebih muda karena paparan medis atau pekerjaan meningkat selama dua dekade terakhir.
Manifestasi Klinis
Gejala  hipersensitivitas tipe lambat (tipe IV )biasanya berkembang dalam waktu 1-2 hari setelah terpapar. Hipersensitifitas segera (tipe I) menyebabkan gejala dalam beberapa menit setelah paparan.
Gejala :
  • Pruritus atau gatal pada kulit dan selaput lendir yang terkena
  • Edema atau terjadi pembengkakkan pada kulit, selaput lendir, jaringan subkutan atau
  •  Suara serak
  • Keluar air mata berlebihan
  • Rinitis
  • Dispneau
  • Sinkop
  • Perut kram
  • Mual, muntah
  • Diare Ruam
  • Eritema, edema, papula, vesikel dan di daerah kontak langsung (tipe IV)
  • Eritema, penebalan, dan pigmen perubahan dengan paparan kronis (tipe IV)
  • Urtikaria, lokal atau umum (tipe I)
  • angioedema
  • konjungtivitis
  • rinitis
  • stridor
  • Hipotensi, syok
Jenis  Reaksi Lateks
  • Kontak Dermatitis Gejala ruam pada bagian tubuh yang kontak dengan lateks.  Reaksi ini terjadi karena penggunaan pembersih, pembersih, cuci dan pengeringan ulang tangan, dan tidak sepenuhnya mengeringkan tangan dan sarung tangan bubuk.  Hal ini menyebabkan gatal, kekeringan, dan iritasi pada bidang kontak dengan produk lateks.
  • Reaksi Lambat Hipersensitivitas tipe IV  Terjadi  akibat penambahan bahan kimia untuk lateks selama pengolahan dan manufaktur.  Produk Lateks menggunakan bahan pengemulsi, akselerator, koagulan, dan stabilisator yang menyebabkan reaksi kulit yang mirip dengan keracunanivy.  Ruam yang berkembang dalam waktu 24-48 jam setelah kontak dan baik berbentuk melepuh atau menyebar di area tubuh lain.  Biduran atau urtikaria merupakan tahap transisi antara hipersensitivitas dan dermatitis.  Pada awalnya dapat terjadi dermatitis kontak tipe lambat diikuti oleh urtikaria dan kemudian hipersensitivitas sistemik.
  • Reaksi  Hipersensitivitas Cepat Tipe I adalah reaksi immunoglobulin (IgE) antibodi karena protein lateks.  Reaksi ini menyebabkan urtikaria, rinitis, asma, anafilaksis, bronkospasme dan konjungtivitis.  Bahkan eksposur tingkat rendah dapat menjadi penyebab memicu alergi pada orang yang sensitif.
  • Tanda-tanda Alergi Lateks  dapat terjadi  pembengkakan atau gatal setelah menggunakan sarung tangan karet atau setelah pemeriksaan medis.  Gatal di tenggorokan setelah pisang, alpukat, atau kenari juga mungkin alergi lateks.  Gatal-gatal atau bengkak setelah pemeriksaan gigi, pilek, sesak nafas, kebingungan, pingsan, gatal-gatal, bernapas cepat, bersin, dan kecemasan adalah beberapa gejala lain alergi lateks.
Penyebab
  • Sumber paparan lateks mungkin jelas atau tidka jelas. Individu mungkin akan terkena paparan  lateks melalui kulit, selaput lendir, atau saluran napas (misalnya, oral, nasal, atau jaringan endotrakeal). Prosedur medis dapat menyebabkan reaksi dalam penyedia peka atau pasien. Paparan inhalasi sengaja sering terjadi dalam pengaturan medis di mana aerosol lateks bermuatan bubuk sarung tangan mungkin tetap di udara selama beberapa jam. Paparan inhalasi juga dapat terjadi di luar rumah sakit dari penggunaan bubuk-dilumasi Produk lateks atau bahkan partikel ban di daerah lalu lintas berat.
Sumber umum dari paparan lateks termasuk, pada berikut:
  • Sarung tangan (misalnya, pemeriksaan, bedah, rumah tangga)
  • Torniket, manset tekanan darah
  • stetoskop
  • kateter
  • Intravena pipa port, piston jarum suntik
  • bantalan elektroda
  • mata
  • respirator
  • Luka saluran air dan tabung
  • Multidose botol
  • bendungan   gigi
  • ban
  • genggaman
  • permadani
  • Sepatu sol, elastis dalam pakaian
  • Kondom, diafragma
  • balon
  • Dot, bayi puting botol
  • Penghapus, bantalan mouse komputer, dan karet gelang
Diagnosis banding
  • Anaphylaxis
  • Angioedema
  • Asthma
  • Conjunctivitis
  • Dermatitis, Atopic
  • Dermatitis, Contact
  • Pediatrics, Anaphylaxis
  • Shock, Cardiogenic
  • Shock, Septic
 Diagnosis
  • ED dan manajemen tergantung pada sejarah dan pemeriksaan fisik
  •  Hasil tes laboratorium yang dikirim dari ED tidak tersedia dalam kerangka waktu yang berguna..
  • Beberapa jenis penelitian yang berguna dalam evaluasi nonemergent.
  • Jumlah total serum IgE mungkin meningkat pada pasien dengan alergi tipe I, tetapi tidak sensitif maupun spesifik.
  • Pemanfaatan Teknik Radioimmunoassay test (RAST) hasil untuk lateks-spesifik IgE rentang 50-100% dan 63-100% sensitif tertentu. Nilai prediksi tergantung pada tes yang tepat digunakan, populasi pasien, dan sumber alergen. RAST bisa menjadi tes konfirmasi berguna dan aman pada pasien dengan sejarah klinis sugestif. Sensitivitas dan spesifisitas yang meningkatkan dengan generasi baru metode pengujian.
  • Enzim-linked tes dari lateks-IgE spesifik (ELISA) dapat melayani tujuan yang sama.
  • Tes lainnya
    Kulit patch pengujian berguna dalam mengidentifikasi alergen spesifik pada pasien dengan hipersensitivitas tipe IV untuk produk lateks.
    Kulit tusukan pengujian dengan ekstrak lateks sensitif, spesifik, dan cepat, namun membawa risiko anafilaksis variabilitas yang signifikan dalam isi ekstrak alergen terus membatasi keandalan dan kemampuan untuk memproduksi uji kulit tusukan.
  • Pengujian dengan ujung jari sarung tangan diterapkan pada kulit pasien berguna ketika sejarah konsisten dengan alergi lateks tapi tes darah negatif. Ini membawa risiko anafilaksis pada tipe I-peka pasien.
  • Jika tipe I lateks alergi dicurigai, semua prosedur harus dilakukan dengan lateks bebas instrumen, perangkat, dan pakaian pelindung.
Penanganan
  • Tetes tempe atau Patch test dilakukan untuk dermatitis kontak dan sarung tangan dapat memecahkan masalah.
  • Secara efektif mengobati dermatitis kontak pada seorang ahli bedah atau praktisi kesehatan menggunakan sarung tangan liner terbuat dari DemithaneTM.
  • Menghindari paparan lateks merupakan pilihan pengobatan hanya t untuk reaksi tipe I .
  • Sangat penting untuk menempatkan orang yang menderita asma, alergi makanan, dan atopy dalam lingkungan yang aman dari paparan lateks, yang mudah untuk menciptakan dengan memanfaatkan sarung tangan bebas serbuk di rumah sakit untuk menghindari masalah protein aerosolizing lateks.
  • Perawatan di rumah  Saat rawat jalan harus menyadari risiko alergi lateks pada pasien dan pelayan kesehatan. Mencari dan membaca gelang MedicAlert.
    Catatan sejarah pasien alergi relevan untuk peralatan medis atau buah-buahan.
    Untuk menyingkirkan alergi lateks yang dapat memperburuk dengan paparan medis lebih lanjut, meninjau riwayat pasien terpapar sebelum reaksi alergi sistemik.
  • Gunakan bubuk pelapis  sarung tangan lateks atau, idealnya, berkualitas tinggi nonlatex sarung tangan untuk meminimalkan risiko untuk pasien dan penyedia. Lateks bebas resusitasi dan intravena (IV) peralatan akses harus tersedia untuk pasien berisiko tinggi. Jangan memberikan obat dari karet beratap botol multidose atau melalui port lateks IV dalam pasien alergi lateks.
  • Perawatan  Gawat Darurat Pasien dengan alergi lateks yang diketahui atau dicurigai yang mencari perawatan untuk kondisi medis yang tidak terkait atau cedera harus disimpan dalam lingkungan lateks-aman untuk mencegah komplikasi serius. Ini termasuk semua pasien dengan spina bifida.
  • Pasien menunjukkan gejala  tipe I alergi lateks yang murni diperlakukan sebagai pasien lain dengan reaksi alergi sistemik, kecuali mereka harus dilindungi dari kontak lateks lebih lanjut untuk menghindari kerusakan klinis. EDS Banyak mewakili lingkungan yang sangat berisiko tinggi untuk lateks-sensitif pasien, terutama jika bubuk sarung tangan karet masih digunakan.
  • Peralatan resusitasi free latex  harus tersedia.
  • Hal ini sering dilakukan mobile lateks bebas melakukan intubasi nonlatex dan peralatan ventilasi, tubing IV, jarum suntik, turniket, bantalan elektroda, sarung tangan, masker, dan botol obat.
  • Pearawatan rutin pasien berisiko tinggi harus menggunakan perlengkapan nonlatex. Reaksi utama pada pasien peka telah diendapkan dengan pemeriksaan panggul dan dubur dengan menggunakan sarung tangan lateks, kateterisasi urin dengan kateter lateks, IV obat diberikan melalui port lateks, dan menghirup aerosol bubuk sarung tangan lateks.
  • Pasien yang membutuhkan studi di daerah rumah sakit lain, seperti radiologi, harus diangkut tanpa risiko paparan lateks
  •  Identifikasi lateks dibandingkan nonlatex peralatan medis tradisional telah diperlukan kontak melelahkan dengan produsen individu. Sejak tahun 1999, US Food and Drug Administration telah dibutuhkan semua produsen untuk menerapkan label peringatan untuk peralatan medis yang mengandung lateks karet alam. Peraturan ini telah membantu untuk memfasilitasi perawatan yang aman pasien yang alergi terhadap lateks. Selain itu, produsen perangkat medis telah mengembangkan banyak lateks bebas alternatif untuk perawatan rutin dan prosedur invasif.
  • Konsultan harus menyadari kebutuhan untuk cermat menghindari mengekspos pasien terhadap lateks selama ujian dan prosedur.
Farmakoterapi
  • Alergi lateks paling baik ditangani dengan memberikan edukasi kepada pasien untuk menghindari paparan lebih lanjut.
  • Tipe I reaksi diperlakukan sebagai reaksi alergi sistemik lainnya.
  • Pengobatan utama adalah epinefrin dan H1 antihistamin.
  • Kortikosteroid sistemik dan H2 blocker mungkin berguna.
  • Tidak ada imunoterapi tertentu yang  telah terbukti efektif.
  • Tipe IV reaksi (dermatitis kontak lokal) tidak mungkin memerlukan pengobatan DE. Mereka dapat diobati dengan steroid topikal dan pendidikan pasien untuk menghindari paparan lebih lanjut.
Pencegahan
  • The American Academy of Family Physicians menawarkan sejumlah saran yang mungkin bisa Anda coba, agar alergi lateks tidak mengganggu Anda.
  • Usahakan mengganti semua barang-barang di rumah Anda yang terbuat dari lateks dengan barang nonlateks.
  • Hati-hati dengan serbuk yang terdapat pada sarung tangan lateks milik Anda. Jika anda berada di rumah sakit, baik Anda sebagai pekerja atau sebagai pasien, pastikan kurangi kontak dengan sejumlah barang terbuat dari lateks, terutama untuk penggunaan sarung tangan.
  • Pilihlah barang yang terbuat dari bahan nonlateks. Mintalah resep dokter agar Anda bisa membawa epinephiren cadangan dalam tas, yang bisa Anda gunakan sewaktu waktu jika  alergi lateks kambuh
Antipasi dalam industri karet Di Indonesia

Indonesia  merupakan negara produsen karet alam (Hevea brasiliensis)  terbesar kedua  tingkat dunia setelah Thailand, dengan melibatkan > 15 juta tenaga kerja serta  menghasikan devisa lebih dari US $ 1,57 milyar/tahun. Luas areal tanaman karet  menghasilkan di perkebunan karet Indonesia tahun 1997 meliputi 2.192.486 ha,  yang terdiri dari Perkebunan Rakyat 84,4%, Perkebunan Besar Negara (PTP  Nusantara) 8,7% dan Perkebunan Besar Swasta 6,9%.  Total produksi karet di  Indonesia adalah 1.571.800 ton/tahun. 

Lateks alam sebagai bahan baku barang  jadi lateks (BJL) memiliki keunggulan khusus dibanding produk pesaingnya (lateks  sintetis)  yaitu harganya lebih murah (±seperempatnya) dan sifat teknisnya seperti kekuatan gel basah, kekuatan  vulkanisat dan elastisitas lebih baik.  Namun, akhir-akhir ini penggunaan lateks  alam sebagai bahan baku alat bantu kedokteran (sarung  tangan medis, kateter, selang infus, kondom, hemodialiser, masker dan selang  pernafasan, balon, drop pipet, pembalut elastis, karpet tidur dll.),  menghadapi masalah karena diketahui mengandung protein alergen yang menyebabkan  reaksi alergi bagi pemakainya.  Hal ini dikhawatirkan dapat menurunkan konsumsi  karet alam dunia serta menjadi kendala bagi perkembangan industri barang jadi  lateks nasional.

Food and Drug  Administration (FDA) dalam waktu dekat akan memberlakukan labeling rendah  protein alergen (hypo alergenic protein) pada sebagian besar produk  barang jadi lateks.  Dalam buku petunjuk yang dikeluarkan 30 Juli 1999 (Medical  Glove Manual) di internet website http:/www.fda.gov /cdrh/manual/glovmanl.pdf  antara lain disebutkan bahwa batas maksimum kadar protein pada sarung tangan  medis adalah 1200 mg  protein/sarung tangan atau setara 150 mg  protein/g karet.  Kadar protein produk sarung tangan dalam negeri umumnya 10-20  kali lebih tinggi (1500-3000 mg  protein/g karet) dari ketentuan batas maksimum tersebut. 

Sebagai produk dari  tanaman karet (H. brasiliensis), lateks mengandung konstituen sitoplasma  sel tanaman baik berupa senyawa karet maupun senyawa nonkaret. Senyawa nonkaret  utama dalam lateks alam adalah protein.  Walaupun kadar protein lateks telah  mengalami banyak penurunan yaitu setelah sentrifugasi selama prosesing lateks  pekat maupun selama prosesing barang jadi lateks, namun demikian residu protein  yang tinggal 2% tersebut masih berpotensi untuk menyebabkan reaksi alergi.

Dalam  persaingan bisnis industri barang jadi lateks yang makin ketat,  produsen perlu  memenuhi persyaratan mutu  teknis yang makin prima dengan antara lain  memperhatikan faktor kesehatan dan keamanan yang setinggi-tingginya bagi  pengguna. Dewasa ini untuk dapat  memasarkan  produk kelas dunia,  proses  produksinya  harus dirancang dengan sistem manajemen mutu terpadu, misalnya  dengan penerapan ISO seri 9000, Total Quality Management (TQM), dan Good Manufacturing Practices (Praktek Cara Pembuatan Produk yang Baik). 

Khusus untuk produk-produk yang berhubungan dengan kesehatan akan diterapkan  baku mutu baru dari ISO seri 10993 yaitu berupa uji biokompatibilitas sebagai  jaminan aman bagi kesehatan konsumen. Malaysia baru saja  menerbitkan standar  mutu  sarung tangan (Standard Malaysian Gloves/SMG) dengan persyaratan  mutu yang ketat.  Walaupun demikian, kriteria SMG oleh kalangan kedokteran di  Inggris masih dinilai belum cukup aman. 

Untuk keperluan deteksi protein alergen  lateks telah tersedia dua jenis kit imunodiagnostik komersial dari luar negeri  yaitu Pharmacia CAP dari Pharmacia Diagnostics, Inc, Piscataway, NJ serta  AlaSTATdari Diagnostic Products Co, Los Angelos CA.  Namun, harganya sangat  mahal sehingga mempengaruhi biaya produksi total.

Beberapa perushaan perkebunan karet dan industri barang jadi lateks nasional, perlu diupayakan  perangkat diagnostik protein alergen serta teknologi produksi dan aplikasi enzim protease untuk pembuatan deproteinized  natural rubber sebagai  bahan baku lateks pekat dan barang jadi lateks bebas protein alergen (hypo-allergenic  natural rubber latex product).

Referensi:

  • Gawchik SM. Latex allergy. Mt Sinai J Med. Sep-Oct 2011;78(5):759-72
  • Agarwal S, Gawkrodger DJ. Latex allergy: a health care problem of epidemic proportions. Eur J Dermatol. Jul-Aug 2002;12(4):311-5.
  • Thong BY, Yeow-Chan. Anaphylaxis during surgical and interventional procedures. Ann Allergy Asthma Immunol. Jun 2004;92(6):619-28.
  • Ahmed DD, Sobczak SC, Yunginger JW. Occupational allergies caused by latex. Immunol Allergy Clin North Am. May 2003;23(2):205-19.
  • Dorevitch S, Forst L. The occupational hazards of emergency physicians. Am J Emerg Med. May 2000;18(3):300-11.
  • Feng C, Wang H. Natural rubber latex allergy among health care workers. J Allergy Clin Immunol. Jun 2007;119(6):1561; author reply 1561
  • Palosuo T, Antoniadou I, Gottrup F, Phillips P. Latex medical gloves: time for a reappraisal. Int Arch Allergy Immunol. 2011;156(3):234-46
  • Ahmed SM, Aw TC, Adisesh A. Toxicological and immunological aspects of occupational latex allergy. Toxicol Rev. 2004;23(2):123-34.
  • Jackson EM, Arnette JA, Martin ML, et al. A global inventory of hospitals using powder-free gloves: a search for principled medical leadership. J Emerg Med. Feb 2000;18(2):241-6.
  • Fein JA, Selbst SM, Pawlowski NA. Latex allergy in pediatric emergency department personnel. Pediatr Emerg Care. Feb 1996;12(1):6-9.
  • Galindo MJ, Quirce S, Garcia OL. Latex allergy in primary care providers. J Investig Allergol Clin Immunol. 2011;21(6):459-65.
  • Liss GM, Sussman GL. Latex sensitization: occupational versus general population prevalence rates. Am J Ind Med. Feb 1999;35(2):196-200.
  • Taylor JS, Erkek E. Latex allergy: diagnosis and management. Dermatol Ther. 2004;17(4):289-301.
  • Hamilton RG, Peterson EL, Ownby DR. Clinical and laboratory-based methods in the diagnosis of natural rubber latex allergy. J Allergy Clin Immunol. Aug 2002;110(2 Suppl):S47-56.
  • Blanco C, Carrillo T, Ortega N, et al. Comparison of skin-prick test and specific serum IgE determination for the diagnosis of latex allergy. Clin Exp Allergy. Aug 1998;28(8):971-6.
  • Bernardini R, Mistrello G, Pucci N, Roncarolo D, Lombardi E, Zanoni E. Diagnostic value of three different latex extracts. Int J Immunopathol Pharmacol. Apr-Jun 2007;20(2):393-400.
  • LaMontagne AD, Radi S, Elder DS, Abramson MJ, Sim M. Primary prevention of latex related sensitisation and occupational asthma: a systematic review. Occup Environ Med. May 2006;63(5):359-64.
  • Filon FL, Radman G. Latex allergy: a follow up study of 1040 healthcare workers. Occup Environ Med. Feb 2006;63(2):121-5.
  • Yagami A, Suzuki K, Kano H, Matsunaga K. Follow-up study of latex-allergic health care workers in Japan. Allergol Int. Sep 2006;55(3):321-7.
  • Biagini RE, MacKenzie BA, Sammons DL, Smith JP, Krieg EF, Robertson SA. Latex specific IgE: performance characteristics of the IMMULITE 2000 3gAllergy assay compared with skin testing. Ann Allergy Asthma Immunol. Aug 2006;97(2):196-202.
  • Food and Drug Administration. Natural rubber containing medical devices: user labeling.[Docket No. 96N-0119]. 21 CFR Part 801 Fed. Regist. 1997;62:51021-51030.
  • Korniewicz DM, Chookaew N, El-Masri M, Mudd K, Bollinger ME. Conversion to low-protein, powder-free surgical gloves: is it worth the cost?. AAOHN J. Sep 2005;53(9):388-93.
  • Phillips VL, Goodrich MA, Sullivan TJ. Health care worker disability due to latex allergy and asthma: a cost analysis. Am J Public Health. Jul 1999;89(7):1024-8.
  • Allmers H, Brehler R, Chen Z, et al. Reduction of latex aeroallergens and latex-specific IgE antibodies in sensitized workers after removal of powdered natural rubber latex gloves in a hospital. J Allergy Clin Immunol. Nov 1998;102(5):841-6.
Provided by

 

CHILDREN ALLERGY CLINIC ONLINE

Yudhasmara Foundation htpp://www.allergyclinic.wordpress.com/

Sumber : http://allergyclinic.wordpress.com/2012/05/20/alergi-lateks-manifestasi-klinis-dan-penanganan-terkini/

Kebun koleksi klon-klon karet di Pakuwon

Kebun koleksi klon-klon karet di Pakuwon


INFO PERKEBUNAN -

Perakitan genotipe unggul karet sangat tergantung pada ketersediaan plasma nutfah. Kebun koleksi klon-klon unggul karet perlu dibangun sebagai kebun konservasi plasma nutfah, kebun induk benih dan kebun persilangan buatan untuk merakit klon karet unggul.

Kebun koleksi karet dibangun di KP Pakuwon, Sukabumi, Jawa Barat seluas 0,5 ha untuk 10 klon, yaitu AVROS 2037, GT 1, RRIC 100, BPM 1, BPM 24, BPM 107, BPM 109, PB 260, IRR 5 dan IRR 104.

Pembangunan kebun koleksi klon-klon karet di Pakuwon merupakan salah satu kegiatan  Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Badan Litbang Kementerian Pertanian pada tahun anggaran 2011.

Pembangunan kebun koleksi dimulai dari penyiapan bibit stum mata tidur di Balai Penelitian Sungei Putih, Sumatera utara, pembangunan pembibitan stum mata tidur dalam polibeg di KP.Pakuwon, penyiapan lahan dan penanaman di lapangan. Kebun koleksi ditata secara blok klonal.

Koleksi klon-klon unggul karet merupakan sumber keanekaragaman genetik yang sangat bermanfaat dalam program pemuliaan karet. Indonesia memiliki sumber keragaman plasma nutfah karet yang penting, berupa koleksi klon-klon unggul hasil introduksi maupun perakitan didalam negeri.

Tiap plot terdiri atas satu klon dengan jumlah tanaman 25 pohon sehingga seluruhnya terdapat 10 plot. Penyiapan lahan dilakukan secara mekanis dan penanaman mengacu kepada standar manajemen pembangunan kebun karet.

Bahan tanaman (bibit) dalam polibeg satu payung daun. Deskripsi dari tiap klon dilakukan didasarkan pada ciri-ciri tanaman, yang meliputi helaian daun, anak tangkai daun, tangkai daun, payung daun, mata tunas, kulit batang dan potensi hasil lateks.

Gambar. Pembibitan karet dengan naungan paranet.

Sumber : http://perkebunan.litbang.deptan.go.id/index.php/id/berita/399

Pengendalian terpadu penyakit JAP pada tanaman karet

Pengendalian terpadu penyakit JAP pada tanaman karet

INOVASI PERKEBUNAN -

Penyakit jamur akar putih (JAP) yang disebabkan oleh patogen Rigidoporus microporus merupakan penyakit penting di perkebunan karet kareaa sering mengakibatkan kematian tanaman, dan biaya pengendaliannya relatif mahal. Oleh karena itu, teknologi  pengendalian JAP yang efektif dan murah sangat diperlukan.

Pengendalian penyakit JAP dapat dilakukan melalui tindakan pencegahan sebelum terjadi serangan dan pengobatan terhadap tanaman yang terserang. Upaya pencegahan penyakit yang dianggap efektif dan sesuai bagi petani karet adalah dengan cara penggunaan fungisida kimia, belerang, biofungisida Trichoderma koningii dan tumbuhan antagonis.

Hasil penelitian menunjukkan pencegahan penyakit yang efektif adalah melalui pengurangan sumber infeksi dengan mempercepat pelapukan tunggul karet dengan pembakaran atau inokulasi jamur pelapuk. Perlindungan tanaman sebelum terserang penyakit dilakukan dengan menanam tanaman antagonis lidah mertua di sekeliling pangkal batang pada awal penanaman karet. Pengobatan tanaman yang terserang JAP yang paling efisien dan efektif adalah dengan aplikasi fungisida berbahan aktif triadmefon.




Gambar. Aplikasi fungisda kimia, biofungisida Trichoderma koningii + belerang, dan penanaman tumbuhan antagonis lidah mertua.

Sumber : http://perkebunan.litbang.deptan.go.id/index.php/id/teknologi/50

Kamis, 19 Januari 2012

PROFIL VARIETAS UNGGUL KLON KARET IRR 39 DAN 42

PROFIL VARIETAS UNGGUL KLON KARET IRR 39 DAN 42


I. PENDAHULUAN

Areal karet di Indonesia sampai saat ini telah mencapai 3.5 juta ha, dimana 80 % merupakan perkaretan rakyat dengan produktivitasnya masih rendah. Rendahnya produktivitas ini selain penerapan teknologi budidaya seperti pemupukan dan pemeliharaan yang kurang, yang lebih pokok adalah masalah penggunaan bahan tanamnya. Telah terbukti bahwa penggunaan bahan tanam klon unggul dalam pengusahaan perkebunan karet merupakan komponen teknologi utama yang memberikan peningkatan produktivitas yang cukup nyata.

Dengan adanya Undang-Undang No 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman pasal 13 ayat 1 menyatakan bahwa bahan tanam yang akan dikembangkan dalam pertanaman harus berupa benih bina yang dilepas secara resmi oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia. Oleh karena itu klon-klon karet anjuran yang terakhir sebelum digunakan secara luas harus dilakukan pelepasan oleh Menteri Pertanian.

Klon-klon karet seri IRR 39, dan 42 merupakan klon yang mempunyai pertumbuhan yang cepat dan mempotensi baik hasil baik dari segi lateks maupun kayunya, sehingga sudah memungkinkan untuk dikembangkan dalam pertanaman. Untuk itu tulisan ini mencoba mengajukan pelepasan klon-klon tersebut untuk menjadi benih bina.


II. POTENSI KEUNGGULAN

Potensi keunggulan suatu klon karet akan dilihat dari hasil pengujian yang dilakukan dan dibandingkan dengan klon standar yang digunakan sebagai kontrol. Sebagai klon pembanding biasanya digunakan klon-klon yang banyak dikembangkan pada saat pengujian berlangsung, dalam hal ini adalah GT 1. Untuk melihat potensi keunggulan klon tentu saja dilihat dari produksi lateks, pertumbuhan lilit batang dan tebal kulit, sifat sekunder terutama ketahanan terhadap penyakit daun dan juga spesifikasi dari mutu lateks dan karet yangs sesuai untuk pengolahan produk tertentu.

· Produksi

Klon Produksi karet kering (kg/p/th) pada thn sadap ke Komulatif Rata

1
2
3
4
5
7
8

IRR 39
IRR 42
GT1

3.55
3.66
4.08

3.72
4.14
4.10

2.57
3.58
2.18

2.19
6.21
3.30

5.17
6.66
4.60

5.96
7.53
4.84

6.06
8.00
4.02

29.22 (108)
39.78 (146)
27.12 (100)

4.17
5.68
3.87

Dari hasil pengamatan produksi karet kering, tampak bahwa kedua klon tersebut mempunyai produksi di atas pembanding GT 1, bahkan untuk klon IRR 42 hampir 1.5 kali dari GT 1.

· Pertumbuhan

Klon Lilit batang (cm) pada umur Laju pertumbuhan (cm/th)
2
3
4
5
Pra sadap
Pasca sadap
IRR 39
IRR 42
GT1

21.00
24.50
19.90
36.06
29.15
29.05
28.26
50.98

43.39




61.58

51.41

51.20




13.53

8.97

10.43




4.58

2.03

1.47





Klon


Tebal kulit

Perawan A


Perawan B


Pulihan A

IRR 39

IRR 42

GT1


7.09

6.50

5.42


6.69

6.29

5.74


6.54

6.33

4.24



Data pertumbuhan yang diamati meliputi lilit batang dan tebal kulit. Dari Tabel pengamatan lilit batang bahwa laju pertumbuhan sebelum sadap mencapai 9 – 13.5 cm/th. Dari data ini tampak bahwa kedua klon dapat mencapai matang sadap pada umur 4 tahun. Sedangkan pertambahan lilit batang setelah sadap mencapai 2-4.5 cm/th.

Untuk mengetahui potensi volume biomasa dan kayu gergajian, dihitung dengan mengggunakan rumus pendekatan berdasarkan lilit batang (Shorrock (1965)



Vol biomassa: Wg x BD,



Wg :bobot biomasa : 0.002604 G 2.78,



Wg : bobot tajuk (kg), G : lilit batang pada ketinggian 100 cm dpo



BD : bobot jenis kayu karet (= 0.61)

(bobotnya 0.61 ton pada volume 1 m3)



Estimasi volume kayu gergajian dihitung dengan rumus :



Volume (m3) : [{ (lilit batang)2 x 3.5}/4] /10 000,



Lilit batang diukur pada ketinggian 100 m dpo, panjang batang asumsi 3.5 meter



No


Klon Karet


Tinggi batang


Vol Biomasa pada umur


Vol kayu gergajian pada umur

5


10


5


10


25

1

2


IRR 39

IRR 42


6.0

6.5


0.40

0.24


1.03

0.86


0.11

0.07


0.21

0.18


0.82

0.41




GT1





0.24


0.46


0.07


0.12






Data pengamatan tebal kulit menunjukkan bahwa kedua klon mempunyai pertumbuhan kulit yang bagus, sehingga kulit pulihannya sudah mampu disadap kembali setelah 5 tahun sadap.



· Ketahanan penyakit



Dari pengamatan ketahanan terhadap penyakit terutama penyakit daun, kedua klon tersebut mempunyai ketahanan yang cukup bagus. Untuk klon IRR 39 dilaporkan bahwa serangan penyakit gugur daun di lapangan untuk Colletotrichum dan Oidium pada klon ini rendah berturut-turut adalah 2.96 % dan 2.35 %. Sedangkan untuk Crynespora belum ada laporan.

Dari hasil evaluasi dilapangan, klon IRR 42 dinilai resisten terhadap gangguan penyakit gugur daun Colletotrichum, Corynespora dan Oidium



· Mutu lateks dan sifat karet



Hasil pengamatan Kadar Karet Kering (KKK) lateks klon IRR 39 adalah 35,1%. Dari hasil analisis karakteristik mutu lateks klon IRR 39 mempunyai nilai Po sebesar 54, PRI : 77, Vr : 97, kadar Mg : 39,4 dan nilai Lovibond sebesar 7. Dengan karakteristik mutu lateks tersebut maka lateksnya dapat diproses menjadi SIR 3 WF. Sedangkan hasil pengamatan Kadar Karet Kering (KKK) lateks untuk klon IRR 42 adalah 36,5%. Dari hasil analisis karakteristik mutu lateksnya mempunyai nilai Po sebesar 54, PRI : 72, Vr : 105, kadar Mg : 50,4 dan nilai Lovibond sebesar 10. Dengan karakteristik mutu lateks tersebut maka lateksnya dapat diproses menjadi SIR-5



III. DISKRIPSI VARIETAS/SPESIFIKASI TEKNOLOGI



Dari diskripsinya kedua klon ini mempunyai percabangan dengan jumlah sedikit, ukuran yang besar dan posisinya tinggi. Tajuk tidak berat dengan ukuran daun cukup lebar. Khusus untuk klon IRR 39 mempunyai ciri khusus yang sudah dapat dibedakan dengan klon lainnya sejak masih muda. Ciri khusus tersebut adalah ditemukannya jumlah helai daun yang lebih dari 3, yaitu 4-5 lembar setiap tangkai daun.



IV. HISTORI PERAKITAN



Klon IRR 39 dan IRR 42 merupakan hasil persilangan tahun 1967 yang dilakukan di Bogor oleh Balai Penelitian Bogor. Seleksi tanaman semaian dilakukan di Kebun Percobaan Ciomas Bogor. Registrasi lama klon ini adalah TMS (Tjiomas) dengan seri 5000. Dari hasil pengujian pendahuluan tersebut, genotipe yang terpilih kemudian dinamakan dengan klon seri RM. Pengujian di Kebun Percobaan Sembawa dilakukan sejak tahun tanam 1973/1974. Nomor registrasi genotipe dan penamaan klon untuk pelepasan disajikan pada Tabel 1.





Tabel. Nomor registrasi, nama klon yang dilepas dan tetuanya



No


Registrasi lama


Nama klon yang dilepas


Tetua persilangan

Seri TMS


Seri RM

1


TMS 5079


RM 39


IRR 39


LCB 1320 x FX 25

2


TMS 5082


RM 42


IRR 42


LCB 1320 x F 351





V. PROSPEK PENGEMBANGAN



Pengembangan tanaman karet pada masa mendatang tampaknya akan lebih mengarah pada usaha yang tidak saja menghasilkan lateks tetapi juga mengarah pada hasil kayu maka pengembangan kedua klon ini akan cukup baik. Untuk mendukung permintaan bahan tanam kedua klon tersebut saat ini di KP Sembawa telah tersedia berupa kebun kayu okulasi (kebun entres) sebanyak 8600 batang atau 1 ha untuk IRR 39 dan 1000 batang untuk IRR 42. Khusus untuk klon IRR 42 jumlah ini terus akan ditambah secara bertahap dengan cara menggantikan klon-klon lama yang sudah tidak diminati oleh para konsumen.

Kedua klon ini dan beberapa klon lain, telah ditanam pada beberapa lokasi baik untuk perkebunan besar maupun untuk rakyat melalui Dinas perkebunan setempat yang masih bersifat uji coba. Sebaran klon-klon tersebut adalah sebagai berikut:



1. PT MHP (SUM-SEL, berupa kebun entres)

IRR 39 : 278 btg IRR 41 : 211 btg, dan IRR44 : 222 btg. Tahun : Oktober 2000



2. PT BRK SUM-SEL : IRR 39 :4375 OMT, IRR 44 : 89225 OMT. Tahun : Januari 1999



3. PT LONSUM : IRR 39 ditanam dengan perlakuan 2 populasi (500 dan 1000 p/ha) tahun tanam : 1997



4. PTPN VII (LAMPUNG) : Dd kebun Bergen : IRR 32, IRR 39, IRR 41, IRR 44 Tahun tanam 1999



5. PTPN VIII (JAWA BARAT) : Di Sukabumi IRR 32 : 475 OMT, IRR 39 : 2850 OMT. TH : MEI 2000 (belum termonitor)



6. PTPN XII (Jawa Timur) : IRR 21, IRR 24, IRR 39, IRR 44, IRR 100, IRR 111, IRR 117. Tahun Tanam : Desember 1996



7. PTPN XIII (Kalimantan Selatan): Danau Salak, IRR 24 : 660 OMT, IRR 32 : 330 OMT, IRR 39 : 660 OMT, IRR 41 : 660 OMT, IRR 44 : 990 OMT dan IRR SERI 100 (Agustus 2000)



8. Disbun Kal Sel : IRR 24, IRR 32, IRR 39, IRR 41, IRR 44 : 10 OMT/klon, Tahun: Juli 2000 berupa Kebun Entres

9. Disbun Jambi : Proyek OECF di Sebapo IRR 39 dan IRR 44, masing-masing 1 ha di lahan petani (tahun tanam 2000/2001)



10. Disbun Kal Teng (Muara) : IRR 33, IRR 39, IRR 44 : 20.000 OMT berupa kebun entres (Tahun tanam : 1999)



11. Klon IRR 5, IRR 32, dan IRR 39 pada 5 penangkar di Kabupaten Banyuasin dengan sistem Waralaba berbantuan (Tahun tanam 2002)



12. Di Jawa Timur : Unit Usaha Tretes PTPN XII Jawa Timur sebagai percobaan untuk mencari klon yang sesuai untuk wilayah kering (Tahun tanam 2002)

Senin, 17 Oktober 2011

UPAYA INDUSTRI KARET NASIONAL DALAM MENGHADAPI PERSAINGAN PASAR KARET REMAH DI DUNIA INTERNASIONAL

UPAYA INDUSTRI KARET NASIONAL DALAM
MENGHADAPI PERSAINGAN PASAR KARET REMAH DI DUNIA INTERNASIONAL

    Pendahuluan

    1. Pendahuluan

      Indonesia merupakan negara produsen karet alam kedua terbesar di dunia setelah Thailand. Pada tahun 2006, produksi karet alam mencapai 2,64 juta ton, lebih dari 90% nya (2,45 juta ton) adalah jenis Crumb Rubber yang dihasilkan oleh sekitar 115 pabrik Crumb Rubber di seluruh Indonesia. Industri Crumb Rubber (karet remah) memiliki arti yang sangat penting bagi perolehan devisa sekaligus penyerapan tenaga kerja. Sebagai gambaran pada tahun 2006, industri crumb rubber berhasil meraup devisa ekspor senilai US$ 3,77 Milyar, hampir 50% dari nilai ekspor produk pertanian. Tenaga kerja yang terserap di bidang produksi crumb rubber mencapai + 100.000, sedangkan dibidang penyediaan bahan baku (petani karet) lebih dari 6 juta orang, belum termasuk para pedagang pengumpul. Luas areal tanaman karet di Indonesia pada saat ini 3,309 juta ha, dimana 84,49% (2,796 ha) merupakan perkebunan rakyat. Oleh karena itu, maju mundurnya kinerja industri karet alam di dalam negeri akan memberikan dampak yang cukup luas bagi kesejahteraan rakyat.

      Menurut data International Rubber Study Group (2007), dalam kurun waktu 5 tahun terakhir konsumsi karet alam di dalam negeri meningkat rata-rata sebesar 10,98 % per tahun, sedangkan di dunia internasional meningkat rata-rata 4,72 % per tahun. Peningkatan harga minyak bumi yang sangat tajam di pasaran internasional, menyebabkan permintaan terhadap karet alam naik pesat, karena karet sintetis yang bahan bakunya berasal dari fraksi minyak bumi harganya ikut meningkat tajam. Terkait dengan hal itu beberapa lembaga perkaretan internasional memprediksi permintaan karet alam dunia ke depan akan meningkat lebih tinggi yaitu pada tahun 2007 diperkirakan sebesar 6,2 % dan tahun 2008 sebesar 7,5 %.
      Peluang yang cerah bagi perkaretan nasional tentunya hanya bisa diraih jika Indonesia mampu meningkatkan kinerja agroindustri karetnya, antara lain melalui peningkatan mutu crumb rubber. Terkait dengan itu, akhir-akhir ini banyak muncul keluhan (complaint) dari beberapa pihak pengimport karet alam (terutama pabrik ban) terhadap mutu Crumb Rubber asal Indonesia, karena disinyalir mengandung kontaminan kimiawi yang sangat berpengaruh terhadap mutu produk karet hilirnya.

      Secara garis besar, kontaminan pada bokar dapat dibedakan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama bersifat innert (fisik), contohnya adalah pasir, kerikil, tatal, ranting, daun-daun dan bekas-bekas tali, sudah biasa terkandung di dalam bokar terutama dari perkebunan rakyat, relatip mudah dikeluarkan karena kasat mata, serta pabrik sudah memiliki berbagai perangkat mesin pembersih mulai dari bale cutter, prebreaker, hammer-mill, hingga kreper. Jenis kontaminan yang kedua adalah bersifat kimiawi, sepintas berwarna menyerupai bokar sehingga sukar dilihat tanpa pengematan yang jeli, contohnya adalah vulkanisat dari reject barang jadi lateks (busa, sarung tangan, balon, dll), dan sisa-sisa koagulan asam keras.

    2. Maksud dan Tujuan
    3. Maksud dan tujuan dilakukan kegiatan ini adalah melakukan inisiasi untuk meningkatan upaya performance industri karet nasional dalam menghadapi begitu ketatnya persaingan pasar karet remah di dunia internasional


    4. Sasaran / Keluaran
    5. Berkurangnya keluhan pelanggan, khususnya pelanggan dari importir luar negeri terhadap Industri Crumb Rubber nasional, terutama terkait dengan isu kontaminan berupa vulkanisat dari karet.


    6. Ruang Lingkup Kegiatan
      • Mengamati proses pembuatan bokar
      • Mempelajari jenis-jenis kontaminan yang ada di dalam bokar dan bagaimana cara kontaminan tersebut mengkontaminasi (masuk ke dalam) bokar.
      • Mengusulkan alternatif teknik-teknik pendeteksian dini kontaminan pada bokar, dengan aplikasinya yang mudah dan biaya ringan.
      • Penyusunan Laporan.

    7. Indikator Kerja
    8. Tersusunnya usulan teknik-teknik pendeteksian dini kontaminan dalam bokar dengan mudah dan biaya yang relatif murah.


    9. Hasil yang Diharapkan
    10. Adanya masukan / rekomendasi kepada Pemerintah yang berupa pedoman dalam menangani teknik-teknik pendeteksian dini kontaminan pada bokar, yang diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan bagi Industri Crumb Rubber nasional dalam mengantisipasi adanya kontaminasi pada Crumb Rubber yang dihasilkan. Diharapkan di tahun mendatang pedoman tersebut dapat disosialisasikan kepada masyarakat umum atay masyaralat industri crumb rubber khususnya.

    Gambaran Umum Industri Karet Alam

    1. Peranan Karet Alam Dalam Perekonomian Nasional
    2. Karet memiliki berbagai peranan penting bagi Indonesia, antara lain : (a) Sumber pendapatan dan lapangan kerja penduduk; (b) Sumber devisa negara dari ekspor non-migas; (c) Mendorong tumbuhnya agro-industri di bidang perkebunan; dan (d) Sumber daya hayati dan pelestarian lingkungan. Luas areal tanaman karet pada tahun 2006 sekitar 3,31 juta hektar, dengan produksi 2,64 juta ton atau 27,3% produksi karet alam dunia (9.2 juta ton), menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil karet alam terbesar kedua setelah Thailand (IRSG, 2007)

      Pada tahun 2005, karet mampu menghasilkan devisa hingga US $ 2,58 milyar, naik menjadi US $ 3,77 milyar pad tahun 2006, menempatkan karet sebagai komoditas penghasil devisa terbesar diantara komoditas perkebunan. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1,3 juta ton pada tahun 1995 dan 2,29 juta ton pada tahun 2006. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2005 mencapai US$ 2,58 milyar, dan meningkat tajam menjadi US $ 4,36 milyar pada tahun 2006 seiring dengan melonjaknya harga karet dari 1,2 USD/kg hingga sekitar 2 USD/kg pada tahun 2006 (Depperind, 2007).

      Bagi perekonomian nasional, karet merupakan komoditas perkebunan yang sangat penting. Selain sebagai sumber lapangan kerja, komoditas ini juga memberikan kontribusi yang signifikan sebagai salah satu sumber devisa non-migas, pemasok bahan baku karet dan berperan penting dalam mendorong pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilayah-wilayah pengembangan karet. Karet bersama-sama dengan kelapa sawit merupakan dua komoditas utama penghasil devisa terbesar dari subsektor perkebunan. dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, karet menyumbang devisa dari 25% hingga 40% terhadap total ekspor produk perkebunan.

      Disamping sebagai penghasil devisa ekspor, perkebunan karet sebagian besar merupakan perkebunan rakyat dengan rata-rata luas kepemilikan relatip kecil, tetapi merupakan sumber mata penghasilan bagi berjuta-juta keluarga petani karet. Pada tahun 2006, luas areal perkebunan rakyat mencapai tidak kurang dari 85%, sisanya merupakan perkebunan Negara dan Swasta. Dari total produksi, hampir 76% nya berasal dari perkebunan rakyat.


    3. Prospek Perdagangan Karet Alam
    4. Hasil kajian para pakar memperlihatkan bahwa prospek perdagangan karet alam dunia sangat baik. Dalam jangka panjang, perkembangan produksi dan konsumsi karet menurut ramalan ahli pemasaran karet dunia yang juga Sekretaris Jenderal International Rubber Study Group, Dr. Hidde P. Smit, mennunjukkan bahwa konsumsi karet alam akan mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari 8,5 juta ton di tahun 2005, naik menjadi 9,23 pada tahun 2006, dan diprediksi menjadi 11,9 juta ton pada tahun 2020

      Sementara itu produksi karet alam dunia sebesar 8,5 juta ton pada tahun 2005, naik menjadi 9,18 juta ton pada tahun 2006, diprediksi menjadi 11,4 juta ton di tahun 2020. Harga karet alam di pasar dunia juga diprediksikan tetap bertahan pada level di atas US $ 1 per kg, bahkan pada tahun 2013 diperkirakan bisa menembus US $ 2,4 per kg dan bahkan level harga tersebut telah dicapai pada tahun 2006 ini. Pada tahun 2020 diperkirakan harga karet alam di pasaran dunia tetap bertahan pada angka US $ 1,9 per kg.

      Timbulnya peningkatan konsumsi karet alam di negara-negara Asia disebabkan makin meningkatnya perkembangan industri ban dan komponen industri lainnya. Konsumsi karet alam dan karet sintetik dunia yang pada tahun 2004 baru mencapai 20,03 juta ton akan meningkat mencapai 28,67 juta ton pada tahun 2020, diantaranya 11,9 juta ton karet alam. Indonesia diharapkan dapat memasok 3,5 juta ton pada tahun 2020.

      ISRG berpendapat bahwa pada jangka panjang diperkirakan terdapat kekurangan pasok yang tidak saja disebabkan oleh permintaan dunia yang meningkat dengan cepat tetapi juga 2 diantara 3 negara penghasil karet alam yaitu Malaysia dan Thailand yang merupakan negara dengan ekonomi yang berkembang cepat, mungkin menjadi generasi baru dari Newly Industrialized Countries (NICs), sehingga kedua negara akan meninggalkan agrobisnis karet. Indonesia diharapkan dapat mengisi kekurangan pasok untuk kebutuhan dunia.


    5. Kondisi Industri Primer Karet Alam
    6. Selama lebih dari 35 tahun (1970-2006), areal perkebunan karet di Indonesia meningkat sekitar 4,8% per tahun, namun pertumbuhan yang nyata terutama terjadi pada areal karet rakyat, sedangkan pada perkebunan besar negara dan swasta sangat rendah, dibawah 1% pertahun. Dari keseluruhan areal perkebunan rakyat tersebut, sebagian besar (± 91%) dikembangkan secara swadaya murni, dan sisanya (± 9 %) dibangun melalui proyek-proyek PIR, PRPTE, UPP Berbantuan, Partial, dan Swadaya Berbantuan.

      Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet nasional adalah rendahnya produktivitas karet rakyat (600-800 kg/ha/th), antara lain karena sebagian besar tanaman masih menggunakan bahan tanam asal biji (seedling) tanpa pemeliharaan yang baik, dan tingginya proporsi areal tanaman karet yang telah tua, rusak atau tidak produktif (± 13% dari total areal). Pada saat ini sekitar 400 ribu ha areal karet berada dalam kondisi tua dan rusak dan sekitar 2-3% dari areal tanaman menghasilkan (TM) yang ada setiap tahun akan memerlukan peremajaan.

      Persoalan mendasar untuk meningkatkan produktivitas karet rakyat melalui peremajaan tanaman tua/rusak adalah masalah dana khusus untuk peremajaan dengan suku bunga yang wajar sesuai dengan tingkat resiko yang dihadapi. Hal ini sangat berbeda dengan negara-negara produsen utama karet lainnya seperti Thailand, Malaysia dan India. Dana pengembangan, promosi, dan peremajaan karet di negara-negara tersebut umumnya disediakan oleh pemerintah yang diperoleh dari pungutan CESS ekspor komoditas karet. Di Indonesia, pungutan CESS untuk pengembangan komoditas perkebunan telah dihentikan sejak tahun 1970

      Permasalahan utama lainnya di perkebunan karet rakyat adalah bahwa bahan baku yang dihasilkan umumnya bermutu rendah, dan pada sebagian lokasi harga yang diterima di tingkat petani masih relatif rendah (60-75% dari harga FOB) karena belum efisiennya sistem pemasaran bahan olah karet rakyat (bokar), antara lain disebabkan lokasi kebun jauh dari pabrik pengolah karet dan letak kebun terpencar-pencar dalam skala luasan yang relatif kecil dengan akses yang terbatas terhadap fasilitas angkutan, sehingga biaya transportasi menjadi tinggi.

      Bahan olah karet dari petani pada umumnya berupa bekuan karet yang dibekukan dengan bahan pembeku yang direkomendasikan (asam format), maupun yang tidak direkomendasikan (asam cuka, tawas, dsb), serta pembekuan secara alami. Pada saat ini bahan olah karet tersebut mendominasi pasar karet di Indonesia karena dinilai petani paling praktis dan menguntungkan.

      Bahan olah karet berupa lateks dan koagulum lapangan, baik yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat maupun perkebunan besar dapat diolah menjadi komoditas primer dalam berbagai jenis mutu. Lateks kebun dapat diolah menjadi lateks pekat dan lateks dadih serta karet padat dalam bentuk RSS, SIR 3L, SIR 3CV, SIR 3WF dan thin pale crepe yang tergolong karet jenis mutu tinggi (high grades). Sementara koagulum lapangan, yakni lateks yang membeku secara alami atau dengan koagulan selanjutnya hanya dapat diolah menjadi SIR10, SIR 20 dan brown crepe yang tergolong jenis karet mutu rendah (low grades)

      Sebagian besar produk karet Indonesia diolah menjadi karet remah (crumb rubber) dengan kodifikasi “Standard Indonesian Rubber” (SIR), sedangkan lainnya diolah dalam bentuk RSS dan lateks pekat. Kapasitas pabrik pengolahan crumb rubber pada saat ini sesungguhnya sudah melebihi dari kapasitas penyediaan bokar dari perkebunan rakyat, namun pada lima tahun mendatang diperlukan investasi baik untuk merehabilitasi pabrik yang ada maupun untuk membangun pabrik pengolahan baru untuk menampung pertumbuhan pasokan bahan baku yang diperhitungkan akan meningkat seiring dengan gencarnya upaya-upaya peremajaan dan perluasan areal kebun karet yang baru.

      Prospek bisnis pengolahan crumb rubber ke depan diperkirakan tetap menarik, karena marjin keuntungan yang diperoleh pabrik relatif pasti. Marjin pemasaran, antara tahun 2000-2006 berkisar antara 3,7%-32,5% dan marjin keuntungan pabrik pengolahan antara 2-4% dari harga FOB, tergantung pada tingkat harga yang berlaku. Tingkat harga FOB itu sendiri sangat dipengaruhi oleh harga dunia yang mencerminkan permintaan dan penawaran karet alam, dan harga beli pabrik dipengaruhi kontrak pabrik dengan pembeli/buyer (biasanya pabrik ban) yang harus dipenuhi. Pada umumnya marjin yang diterima pabrik akan semakin besar jika harga meningkat.


    7. Perkembangan Industri Crumb Rubber
    8. Pada awalnya sebagian besar karet alam Indonesia diperdagangkan dalam bentuk karet lembaran yakni karet sit asap (RSS = ribbed smoked sheet), Namun sejak diperkenalkan teknologi karet remah (crumb rubber) pada tahun 1968, produksi karet sit secara dramastis menurun, beralih ke karet remah, tidak kurang dari 90% produksi karet alam nasional setiap tahunnya merupakan karet remah.

      Tingginya permintaan pasar terhadap karet remah untuk dijadikan bahan pembuatan komponen teknik terutama ban kendaraan bermotor, dan ditunjang dengan jaminan ketersediaan bahan bakunya (bahan olah karet), menyebabkan perkembangan teknologi karet remah saat ini sudah sedemikian pesat. Pada tahun 1969 terdapat 65 pabrik, kini sekitar 115 pabrik karet remah yang aktif beroperasi di Indonesia.

      Tuntutan permintaan yang tinggi dari sektor transportasi terhadap karet alam sukar dipenuhi oleh karet lembaran, karena karet jenis ini memerlukan waktu pengolahan yang cukup lama yakni 7-14 hari. Dengan teknologi karet remah, bahan olah karet secara cepat, kurang dari 1 hari dapat diolah menjadi karet mentah yang siap untuk dijual. Selain itu, mutu karet remah dinilai berdasarkan hasil analisis fisiko-kimia, sehingga dianggap lebih "fair " dibandingkan mutu karet lembaran yang dinilai hanya berdasarkan pengamatan visual dan bersifat subyektif.

      Pada saat karet lembaran masih mendominasi produksi karet alam, petani berperan sebagai penghasil lateks, dan banyak juga yang sekaligus sebagai pengolahnya untuk dijadikan karet sit. Namun sejak penerapan teknologi karet remah, petani umumnya hanya berperan sebagai penyedia bahan olah berupa lump dan slab. Lump merupakan bahan olah karet yang dibuat dari lateks yang digumpalkan menjadi berbentuk mangkok berdiameter sekitar 10-15 cm, sedangkan slab berbentuk balok tipis hingga berukuran sekitar 35cmx50cm, tebal 20 cm.

      Bahan olah karet dari petani dijual ke prosesor akhir yakni pabrik karet remah untuk diolah menjadi karet remah jenis SIR (Standard Indonesian Rubber) 10, atau SIR 20. Pengolahan melibatkan serangkaian proses mulai dari pengecilan ukuran, pencucian, homogenisasi, pengeringan dan pengemasan.

      Sejak dimulainya era karet remah, SIR 20 senantiasa mendominasi jenis karet remah yang diproduksi. Saat ini ekspor karet remah SIR 20 sekitar 85%. Dengan demikian tampak bahwa bahan olah karet lump dan slab sangat penting peranannya sebagai bahan baku untuk pembuatan karet remah. Pada Tabel 2.1 berikut ditampilkan perkembangan volume ekspor karet alam selama beberapa tahun terakhir. Tampak untuk kurun waktu 5 tahun terakhir, karet SIR 20 sangat dominan sebagai produks ekspor, rata-rata porsinya mencapai hampir 90%.


      Tabel 2.1. Perkembangan Ekspor Karet Alam Menurut Jenis (ribu ton)

      Jenis Mutu 2002 2003 2004 2005 2006 Rataan Proporsi (%)
      Lateks Pekat 8,6 12,5 11,7 4,0 7,9 8,9 0,48
      RSS 44,2 46,2 145,9 334,1 320,1 178,1 9,59
      Total SIR 1437,1 1589,4 1684,9 1674,7 1959 1669,0 89,93
      SIR 5 1,8 74,4 116,1 64,8 - - -
      SIR 10 6,.6 59,8 32,2 3,4 - - -
      SIR 20 1318,6 1332,3 1524,4 1605,9 - - -
      SIR lain 25 122,8 12,1 0,5 - - -
      Lain-lain 7,4 12,8 31,6 10,5 - - -
      Total 1497,3 1660,9 1874,1 2023,3 2287 1856 100

    9. Kebijakan Pembangunan Industri Karet
    10. Dalam Kebijakan Pembangunan Industri Nasional, dikemukakan bahwa berdasarkan pertimbangan terdapatnya permasalahan yang mendesak yakni penyerapan tenaga kerja, pemenuhan kebutuhan dasar dalam negeri, pengolahan hasil pertanian dalam arti luas dan sumber daya alam negeri, dan memiliki potensi pengembangan ekspor yang tinggi maka fokus pembangunan industri pada adalah penguatan dan penumbuhan klaster-klaster industri inti, yaitu : 1) Industri makanan dan minuman; 2) Industri pengolahan hasil laut; 3) Industri tekstil dan produk tekstil; 4) Industri alas kaki; 5) Industri kelapa sawit; 6) Industri barang kayu (termasuk rotan dan bambu); 7) Industri karet dan barang karet; 8) Industri Pulp dan kertas; 9) Industri mesin listrik dan peralatan listrik; dan 10) Industri petrokimia. Pengembangan 10 klaster industri inti tersebut, secara komprehensif dan integratif, ditunjang industri terkait (related industries) dan industri pendukung (supporting industries).

      Pemerintah telah menetapkan sasaran pengembangan industri pengolahan karet adalah industri berskala kecil, menengah dan besar, dimana dalam jangka menengah yang ingin dicapai adalah meningkatnya mutu Bahan Olah Karet (Bokar) sesuai SNI, terpeliharanya kestabilan harga di tingkat petani, dan tumbuhnya industri pendukung (terutama koagulan, bead wire, nylon tyre-cord, dll). Sedangkan dalam jangka panjang, target pengembangan industri karet adalah menjadikan Indonesia sebagai produsen karet olahan nomor 1 dunia yang ditunjang oleh industri pendukung yang kuat

      Sasaran pengembangan industri pengolahan karet yang tersebut di atas, dijabarkan dalam uraian pokok-pokok rencana aksi yang akan dilaksanakan dalam jangka menengah dan panjang.

    Rencana aksi jangka menengah :

    • Restrukturisasi/optimalisasi pabrik-pabrik berteknologi lama
    • Peningkatan partisipasi pada ITRCo untuk stabilisasi harga crumb rubber
    • Memberikan insentif kepada petani yang meremajakan pohon karet
    • Mendorong litbang karet untuk bisa mendapatkan bahan-bahan campuran (compounding) pembuatan karet teknik.
    • Penerapan dan pengawasan SNI Bokar dan SNI wajib ban;
    • Pengembangan kemitraan petani, pedagang dan pabrikan dalam peningkatan mutu Bokar;
    • Peningkatan partisipasi industri crumb rubber pada program peremajaan karet rakyat;
    • mendorong restrukturisasi dan modernisasi peralatan pabrik;
    • Meningkatkan kemampuan produksi berbagai jenis ban radial mobil penumpang, truk dan bus.
    • Mendorong investasi industri pendukung

    Rencana aksi jangka panjang :

    • Meningkatkan ekspor produk karet bernilai tambah tinggi (compound, karet teknik, dll);
    • Meningkatkan kemampuan produksi ban radial high performance, heavy duty dan offroad;
    • Meningkatkan kemampuan produksi karet enjinering.

    Hasil Pengamatan Karakteristik Bahan Baku Crumb Rubber

    1. Jenis-Jenis Karet Alam
    2. Karet merupakan polimer yang bersifat elastis, sehingga dinamakan pula sebagai elastomer. Saat ini karet tergolong atas karet sintetik dan karet alam. Karet sintetik dibuat secara polimerisasi fraksi-fraksi minyak bumi. Contoh karet sintetik yang kini banyak beredar adalah SBR (Strirene Butadiene Rubber), NBR (Nitrile Butadiene Rubber), karet silikon, Urethane, dan karet EPDM (Ethilene Propilene Di Monomer).
      Karet alam diperoleh dengan cara penyadapan pohon Hevea Braziliensis. Karet alam memiliki berbagai keunggulan dibanding karet sintetik, terutama dalam hal elastisitas, daya redam getaran, sifat lekuk lentur (flex-cracking) dan umur kelelahan (fatigue). Berdasarkan keunggulan tersebut, maka saat ini karet alam sangat dibutuhkan terutama oleh industri ban.
      Dewasa ini karet alam diproduksi dalam berbagai jenis, yakni lateks pekat, karet sit asap, karet krep dan crumb rubber.

      1. Lateks pekat diolah langsung dari lateks kebun melalui proses pemekatan yang umumnya secara sentrifugasi sehingga kadar airnya turun dari sekitar 70% menjadi 40-45%. Lateks pekat banyak dikonsumsi untuk bahan baku sarung tangan, kondom, benang karet, balon, kateter, dan barang jadi lateks lainnya. Mutu lateks pekat dibedakan berdasarkan analisis kimia antara lain kadar karet kering, kadar NaOH, Nitrogen, MST dan analisis kimia lainnya.
      2. b) Karet sit asap atau dikenal dengan nama RSS (Ribbed Smoked Sheet) dan karet krep (crepe) digolongkan sebagai karet konvensional, juga dibuat langsung dari lateks kebun, dengan terlebih dulu menggumpalkannya kemudian digiling menjadi lembaran-lembaran tipis, dan dikeringkan dengan cara pengasapan untuk karet sit asap, dan dengan cara pengeringan menggunakan udara panas untuk karet krep. Mutu karet konvensional dinilai berdasarkan analisis visual permukaan lembaran karet. Mutu karet akani makin tinggi bila permukaannya makin seragam, tidak ada gelembung, tidak mulur, dan tidak ada kotoran serta teksturnya makin kekar/kokoh.
      3. c) Crumb rubber (karet remah) digolongkan sebagai karet spesifikasi teknis (TSR=Technical Spesified Rubber), karena penilaian mutunya tidak dilakukan secara visual, namun dengan cara menganalisis sifat-sifat fisiko-kimianya seperti kadar abu, kadar kotoran, kadar N, plastisitas Wallace dan viskositas Mooney. Crumb rubber produksi Indonesia dikenal dengan nama SIR (Standard Indonesian Rubber). Saat ini umumnya (SIR 10 dan 20) dibuat dari lump atau sleb dari perkebunan rakyat. Disebabkan bahan bakunya kotor, maka proses pengolahan dipabrik crumb rubber melibatkan berbagai peralatan pengecilan ukuran (size reduction) dan pencucian.

    3. Klasifikasi Jenis Bahan Olah Karet (Bokar)
    4. Berdasarkan standar mutu bokar yang berlaku saat ini (SNI 06-2047-2002) sebagaimana disajikan pada Tabel 3.1, terdapat 4 jenis bahan olah karet yakni lateks kebun, dan koagulumnya dalam bentuk sit, lump dan slab.


      • Lateks kebun
      • Lateks kebun adalah getah pohon karet yang diperoleh dari pohon karet (Hevea brasiliensis M.), berwarna putih dan berbau segar. Umumnya lateks kebun hasil penyadapan mempunyai kadar karet kering (KKK) antara 20-35%, serta bersifat kurang mantap sehingga harus segera diolah secepat mungkin. Cara penyadapan dan penanganan lateks kebun sangat berpengaruh kepada sifat bekuan sekaligus tingkat kebersihannya.
        Untuk memperoleh lateks kebun yang baik, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :

        1. Mengumpulkan lateks kebun yang masih segar 3-5 jam setelah penyadapan. Sebagai wadah, sebaiknya menggunakan sejenis mangkok, ember dan wadah lain yang bersih dan kering untuk menampung lateks kebun agar mutu terjaga baik.
        2. Menghindarkan prakoagulasi dengan menambahkan larutan amonia encer (10%) sebanyak 100-200 ml (1/2 - 1 gelas) ke dalam 10 liter (1 ember) lateks kebun
        3. Koagulum (bekuan karet) yang terjadi dalam ember harus segera dipisahkan dari lateks agar lateks kebun tidak mengalami penggumpalan seluruhnya.
        4. Lateks kebun jangan dicampur dengan benda lain seperti kayu dan kotoran lain dan jangan diencerkan.


      • Sit Angin
      • Sit angin adalah lembaran tipis yang berasal dari gumpalan lateks kebun dengan menggunakan penggumpalan asam semut, dikempa airnya dengan cara penggilingan dan dikeringkan dengan cara dianginkan. Pengolahan sit angin yang baik adalah sebagai berikut

        1. Pengenceran lateks
          Lateks kebun yang belum mengalami prakoagulasi (penggumpalan dini) diencerkan dengan air bersih hingga KKK menjadi sekitar 15% atau 1 ember lateks kebun ditambah dengan 3/4 (tiga perempat) ember air.
        2. Penyaringan
          Lateks kebun yang telah diencerkan disaring melalui saringan lateks 20 mesh.
        3. Penggumpalan
          Lateks yang telah disaring dibubuhi larutan asam semut 10%. Larutan asam semut 10% dibuat dengan mengencerkan asam semut 90% dengan air bersih dalam perbandingan 1 : 10. Dosis yang digunakan menggumpalkan lateks adalah 10 ml (1 sendok makan) larutan asam semut encer per liter lateks yang telah diencerkan. Penambahan larutan asam semut ke dalam lateks disertai pengadukan secara merata kemudian lateks dibiarkan menggumpal selama 2-3 jam sampai terbentuk koagulum siap untuk digiling.
        4. Penggilingan
          Koagulum dikeluarkan dari bak dan dipipihkan. Lembaran koagulum digiling menggunakan gilingan tangan polos sebanyak 4 kali, setiap kali menggiling jarak rol diatur agar setelah penggilingan ketiga tebal lembaran karet ± 5mm. Setelah itu lembaran karet digiling menggunakan gilingan beralur 1 kali sehingga tebal sit sekitar 3mm. Lembaran sit dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan asam semut yang tertinggal.
        5. Pengeringan
          Lembaran sit yang diperoleh digantung di atas rak untuk dikering-anginkan di udara terbuka kira-kira 10 hari, dan diusahakan agar tidak terkena sinar matahari langsung.

      • Lump dan slab
      • Lump merupakan koagulum yang terbentuk pada mangkok penampung lateks kebun beberapa saat setelah penyadapan. Menurut Standar Mutu yang kini berlaku, proses penggumpalan harus terjadi secara alami atau dengan koagulan yang baik. Mutu I diberlakukan untuk ketebalan tidak lebih dari 50 mm, mutu II diatas 50 sampai 100 mm, mutu III lebih dari 100 hingga 150 mm, ketebalan di atas 150 mm digolongkan sebagai mutu IV.
        Slab adalah gumpalan (koagulum) yang berasal dari lateks kebun yang sengaja digumpalkan dengan asam semut dan dari lum mangkok segar yang direkatkan dengan atau tanpa lateks. Slab tipis tidak boleh dikotori oleh tatal sadap, kayu, daun, pasir dan benda asing lain. Jenis-jenis kontaminan tersebut merupakan bentuk utama dari limbah padat yang dihasilkan di pabrik crumb rubber.

        Agar dapat dihasilkan slab tipis yang baik, cara pengolahan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

        1. Lum segar harian hasil penyadapan ditata berjajar satu lapis dalam kotak kayu atau bak pembekuan lain dengan tebal tidak lebih dari 50mm.
        2. Lateks kebun langsung ditambahkan larutan asam semut 10% sebanyak 10 ml per liter lateks, kemudian segera dituangkan secara merata ke dalam bak pembekuan yang telah berisi lum segar, sehingga terbungkus oleh lapisan lateks.
        3. Koagulum yang diperoleh berbentuk slab tipis dengan ketebalan kurang dari 50mm. Slab ini selanjutnya dapat dipipihkan dengan tangan atau benda lain (kayu) di atas alas yang bersih.
        4. Slab tipis ditiriskan dan didinginkan di atas rak atau digantung seperti meng-gantung sit angin di udara terbuka selama 1 - 2 minggu dan tidak boleh terkena sinar matahari langsung. Slab tipis yang telah dikering-anginkan disimpan dalam bangsal penyimpanan.

    5. Sistem Tataniaga Bahan Olah Karet
      • Struktur Pasar Bahan Olah Karet
      • Sistem tataniaga karet rakyat memperlihatkan struktur yang sangat kompleks dan mengarah pada bentuk pasar oligopsonistik. Pada sentra-sentra karet rakyat pola swadaya murni, sering ditemukan sejumlah petani karet hanya berhadapan dengan satu orang pedagang karet. Pada kondisi demikian petani karet benar-benar memiliki posisi sebagai price taker. Negosiasi harga tidak pernah terjadi, karena petani tidak memiliki pilihan yang lain.

        Pada kawasan yang telah relatif terbuka, umumnya pada sentra produksi karet rakyat pengembangan dan sekitarnya, telah terjadi pergeseran struktur dari bentuk oligopsonistik mengarah pada monopsonistik ke struktur oligopsonistik yang mengarah pada pasar yang lebih beraing. Sekian petani berhadapan dengan sekian pedagang. Dengan kondisi ini, petani memiliki peluang melakukan negosiasi harga dengan beberapa pedagang. Keputusan petani untuk menjual hasil kebunnya akan lebih rasional dengan mempertimbangkan harga yang akan diperoleh. Namun demikian, pada kenyataan di lapangan, biasanya setiap petani tetap memiliki pedagang langganan tempat melakukan transaksi.

        Rasionalitas keputusan yang diambil oleh petani dalam melakukan transaksi bokar sangat dipengaruhi juga oleh kondisi sosial ekonomi petani. Bagi petani berlahan sempit dan memiliki pendapatan relatif kecil, seringkali memiliki ketergantungan yang kuat dengan pedagang. Walaupun memiliki alternatif saluran penjualan yang lain, karena ada keterikatan secara finansial (hutang uang) dengan pedagang, maka petani memiliki kewajiban secara moral untuk menjual hasil kebunnya kepada pedagang yang bersangkutan dan harga jual akan menjadi pertimbangan kedua.


      • Saluran dan Kelembagaan Tataniaga
      • Hingga saat ini produksi dan ekspor karet Indonesia didominasi oleh jenis mutu SIR 20. Karena orientasi pemasaran karet adalah ekspor maka sistem tataniaga bokar berfungsi sebagai penghubung antara petani sebagai produsen bokar dengan ekportir yang pada umumnya juga sekaligus sebagai prosesor/pengolah. Dengan teknologi pengolahan crumb rubber, peran petani dalam sistem tataniaga bokar hanya terbatas sebagai penyedia bahan olah yang bentuk dan mutunya masih sangat bervariasi.

        Selanjutnya pengolahan bokar tersebut dilakukan secara terpusat di pabrik-pabrik crumb rubber yang umumnya berlokasi jauh dari pusat-pusat produksi karet rakyat. Setiap wilayah produksi karet rakyat memiliki variasi dalam saluran tataniaganya, tetapi sebagai pola umum digambarkan secara skematis seperti terlihat pada Gambar 4.1. Di dalam pola ini terlibat petani, pedagang perantara tingkat desa, pedagang perantara tingkat kecamatan, pedagang perantara tingkat kabupaten/propinsi dan pabrik pengolahan. KUD, kelompok tani, dan pasar lelang telah masuk dalam sistem tataniaga bokar.
        Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa sebagian besar rumah tangga petani menjual karetnya kepada pedagang perantara, hanya sebagian kecil saja petani yang menjual bokarnya ke pasar atau langsung ke pabrik pengolahan. Fakta ini menunjukkan bahwa saluran tataniaga melalui pedagang perantara masih dianggap lebih ‘menguntungkan’ dibandingkan dengan saluran lainnya.

        Gambar 3.1. Pola umum pemasaran bahan olah karet rakyat



        Secara historis terlihat bahwa dalam tataniaga bokar secara alamiah telah terbentuk suatu sistem kelembagaan yang mengatur interaksi di antara pelaku-pelaku pada sistem pemasaran bokar. Pada awal perkembangannya, karet ekspor Indonesia termasuk karet rakyat masih dalam bentuk karet konvensional. Petani menjual karetnya kepada pedagang tingkat desa yang pada umumnya juga sebagai pedagang kebutuhan pokok atau pemilik rumah asap. Hubungan petani dengan pedagang tingkat desa tersebut terbentuk dalam suatu kelembagaan dalam bentuk aturan-aturan yang disepakati bersama yang mengatur tidak hanya terbatas pada transaksi bokar tetapi juga dalam hal kebutuhan pokok petani. Karena unit pengolahan rumah asap juga cukup tersebar, maka banyak petani yang juga memperoleh keterampilan dalam pengolahan misalnya dalam pembuatan sit angin atau malahan sit asap atau RSS. Dalam bentuk kelembagaan seperti ini kebanyakan petani mengetahui benar mengenai mutu bokar yang dihasilkan untuk bisa diolah menjadi RSS, sehingga menjadi insentif bagi petani untuk menghasilkan bokar dengan mutu yang lebih baik.

        Dalam perkembangan selanjutnya dengan sistem pengolahan crumb rubber, pabrik pengolahan SIR tumbuh demikian cepatnya pada lokasi yang jauh dari kebun petani untuk menampung bahan olah karet rakyat yang lokasinya terpencar-pencar. Kapasitas terpasang pabrik SIR jauh melebihi bahan olah yang dapat ditampung. Adanya permintaan yang meningkat terhadap bokar mengakibatkan kecenderungan semakin besarnya peranan pedagang perantara dan pembelian bokar di tingkat petani cenderung tidak lagi selektif terhadap mutu.

        Petani hampir tidak memiliki jalinan hubungan dengan pabrik pengolahan dan hubungan mereka terbatas hanya dengan pedagang pengumpul tingkat desa yang secara langsung melakukan transaksi bokar dengan petani. Petani menghasilkan bokar seolah-olah hanya memenuhi komitmen dengan pedagang pengumpul yang hampir tidak pernah membedakan antara bokar mutu baik dan jelek. Di pihak lain kondisi demikian mendorong meningkatnya jumlah pedagang perantara sehingga secara teoritis akan meningkatkan persaingan di antara pedagang dalam mendapatkan bokar dari petani, dan memberikan alternatif opsi bagi petani dalam menjual bokarnya.

        Program-program pengembangan karet rakyat di pusat-pusat produksi karet rakyat melalui berbagai proyek, baik secara terpadu maupun secara parsial dalam skala yang lebih kecil, telah memasukkan konsep kelembagaan formal dalam sistem tataniaga bokar. Kelompok Tani, Gabungan Kelompok Tani, Asosiasi Petani, Koperasi/KUD, pool lelang, kemitraan merupakan kelembagaan formal dengan seperangkat aturan formal yang masuk dalam sitem kelembagaan tataniaga karet rakyat. Organisasi pemasaran tersebut secara konsepsi tidak hanya diperuntukkan bagi petani peserta proyek tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai alternatif kelembagaan tataniaga bagi petani karet tradisional yang berada di sekitar proyek.

    6. Perkembangan Mutu Bahan Baku Crumb Rubber
    7. Sesuai dengan pola bisnis pada umumnya yang ingin mendapatkan margin sebesar-besarnya dari hasil penjualan produk, maka di dalam perdagangan bahan baku karet (bokar) senantiasa muncul upaya untuk memanipulasi berat dengan cara menambahkan zat-zat pengotor. Manipulasi berat bahan baku crumb rubber relatip mudah dilakukan dibanding terhadap lateks pekat dan sit asap, berdasarkan pertimbangan sebagai berikut.

      1. Lateks pekat dan karet lembaran (sit asap dan krep) berbahan baku langsung dari lateks kebun yang masih segar, sehingga penambahan zat pengotor akan langsung terlihat dengan kasat mata, serta pengaruh buruknya terjadi secara langsung pula terhadap produk lateks pekat maupun sit asap/krep yang dihasilkannya.
      2. Pengusahaan lateks pekat dan karet lembaran secara umum dilakukan oleh perusahaan BUMN dan Swasta Besar, yang memiliki organisasi dan manejemen produksi yang sangat baik, sehingga meminimalkan kemungkinan terjadinya kontamiasi di dalam bahan baku yang akan diproses di pabriknya.
      3. Perusahaan lateks pekat dan sit asap/krep umumnya memiliki lahan sendiri yang telah terintegrasi dengan pabrik pengolahannya.


      Karet sit sesungguhnya memiliki mutu yang relatip baik dibanding karet remah, karena dibuat langsung dari lateks dengan prosedur yang ketat, antara lain penggumpalan harus sesegera mungkin, karena jika lateksnya kurang segar akan dihasilkan karet sit mutu rendah. Ketebalan lembarannya harus cukup tipis (1-3 mm), sehingga mengurangi peluang timbulnya kesengajaan memasukan kotoran agar beratnya meningkat. Suhu pengeringan maksimum 55-60 oC, karena suhu yang tinggi akan menyebabkan permukaan karet bergelembung dan lengket.

      Industri crumb rubber pada hakekatnya hanya merupakan industri pencucian dan pengeringan secara singkat. Berbeda dengan karet sit asap atau krep, karet remah dapat dibuat dari lateks yang telah menggumpal (koagulum) baik yang segar maupun yang sudah lama terperam, dengan sembarang bentuk dan ukuran, sehingga. membuka peluang kesengajaan memasukkan kotoran agar beratnya meningkat. Sejak terlahir pada tahun 1968, industri crumb rubber telah mengalami perkembangan teknologi untuk menyesuaikan terhadap kapasitas dan kondisi bahan baku yang tersedia.

      • Periode 1968-1971 : dalam kurun waktu ini belum terjadi masalah kontaminasi karena bahan baku langsung dari leteks dan pembekuannya dilaksanakan di pabrik dengan sarana yang bersih, kemudian bekuan diremahkan dengan bantuan minyak jarak langsung di dalam kreper. Crumb rubber yang dihasilkan baru jenis SIR 3 dan 5. Nilai 3 (atau 5) tersebut, menunjukkan kadar maksimum kotoran tidak lebih dari 0,03 (atau 0,05%).
      • Periode 1972-1980 : pabrik-pabrik crumb rubber mulai bermunculan, yang asalnya kurang dari 60 pabrik meningkat menjadi 85 pabrik pada awal tahun 1972, menyebabkan persaingan sangat ketat untuk pengadaan bahan baku. Pada awal tahun 1972, peremahan dengan minyak jarak menggunakan kreper mulai ditinggalkan karena dinilai lambat, dan sebagai gantinya mulai digunakan granulator. Pengembangan alat ini bersama-sama dengan hammer-mill ternyata mampu meremahkan karet dalam bentuk lump. Kondisi ini berdampak petani karet mulai memproduksi lump mangkok yang relatip cepat pembuatannya dibanding menyiapkan lateks tetap segar. Pada periode ini mulai diproduksi SIR 10. Hal ini menunjukkan bahwa kadar kotoran mulai meningkat. SIR 10 berkadar kotoran maks. 0,1, sedangkan SIR 3 hanya 0,03%.
      • Periode 1980-sekarang : Jumlah pabrik meningkat menjadi 106 dan kini 115, seiring dengan meningkatnya permintaan dunia terhadap crumb rubber. Pada tahun 1975 produksi karet alam Indonesia masih sekitar 780 ribu ton, pada tahun 1980 naik tajam menjadi 1020 ribu ton. Agar kapasitas pabrik dapat ditingkatkan, maka proses peremahan di dalam granulator/hammer-mil juga perlu ditingkatkan, caranya adalah dengan memasang pre-breaker sebelum granulator/hammer-mill. Alat ini semula dirancang sebagai mesin peremah kasar dengan input tetap lump. Namun ternyata alat tersebut dapat dikembangkan untuk bahan baku yang lebih besar dibanding lump. Kondisi ini menjadi pemicu petani untuk menjual berbagai jenis bahan baku, selain lump juga sleb, ojol, sit angin, scrap tanah dan scrap pohon. Peralatan pabrik pun sudah sedemikian lengkap, mulai dari pre-breaker, hammer-mill, granulator, ekstruder, bak-bak makro-blending, kamar gantung angin, dan shredder.

      Dari uraian di atas tampak bahwa terdapat kaitan atau sebab akibat yang sangat erat antara peningkatan konsumsi dunia untuk crumb rubber, daya pasok bokar, kapasitas pabrik, teknologi pengolahan, dan karakteristik bahan baku. Peningkatan konsumsi dunia menyebabkan peningkatan kapasitas produksi pabrik. Kondisi ini berdampak persaingan memperebutkan bahan olah semakin tajam, sehingga aspek mutu mulai diabaikan, memicu petani untuk berlomba-lomba menyediakan bahan baku dengan sasaran utamanya adalah kuantitas.

      Pengawasan mutu yang lemah dan tidak adanya insentif harga terhadap mutu, merupakan faktor utama yang mendorong upaya memanipulasi berat bokar dengan cara membubuhkan bahan-bahan non-karet, agar berat bokar dapat ditingkatkan dengan harapan harganyapun dapat dinaikkan.

      Untuk memperbaiki mutu bokar dan memperkecil keragaman jenis bokar, pemerintah sejak tahun 1984 telah membakukan bokar melalui SPI-BUN 02/02/1984. Sejalan dengan Revisi Skema SIR pada tahun 1988, SPI Bokar tersebut disempurnakan menjadi SPI-BUN 02/02/1988. Pada tahun 1990 SPI Bokar diangkat oleh Dewan Standardisasi Nasional (DSN) menjadi Standar Nasional Indonesia SNI 06 - 2047 - 1990 Bokar.

      Adanya SNI Bokar SNI 06-2047-1990 seharusnya sangat membantu perbaikan mutu, namun disayangkan bahwa standar ini sulit diaplikasikan di lapangan. Selain itu SNI Bokar bersifat sukarela (voluntary), berbeda dengan SNI untuk crumb rubber dan RSS yang bersifat wajib (mandatory).

      Untuk mengeliminir kendala tersebut, pemerintah melalui Badan Standardisasi Nasional telah merevisi SNI Bokar menjadi SNI 06-2047-1998 berdasarkan Surat Keputusan No. 102/BSN-I/KH/05/98 tanggal 26 Mei 1998. Penerapan SNI bersifat wajib (mandatory) yang diharapkan berdampak lanjut sampai ke tingkat petani untuk menghasilkan bokar bermutu baik.

      Sekalipun SNI 06-2047-1998, bersifat mandatory, namun penerapannya mengalami kesulitan, antara lain disebabkan kurangnya tenaga pelaksana pengawasan penerapan standar mutu. Selain itu Kapasitas terpasang pabrik telah melampaui kemampuan pasok bahan olah menyebabkan pabrik kurang tertarik untuk menyeleksi bahan olah, selama target produksi belum terpenuhi.

      Belum terlaksananya penerapan standar mutu bokar secara efektif menyebabkan kondisi bokar belum mengalami peningkatan berarti. Hal ini menyebabkan permasalahan konsistensi mutu masih belum terpecahkan sepenuhnya secara mendasar. Pihak pabrik masih mengandal-kan cara-cara lama untuk memenuhi permintaan konsumen, yakni dengan cara mencampur berbagai jenis bahan olah dengan harapan kualitas produk memenuhi kisaran permintaan yang dipersyaratkan konsumen. Selain itu, terkadang pabrik juga melakukan pengujian total seluruh bandela karet yang dihasilkan dan mengeluarkan produk yang tidak memenuhi persyaratan permintaan konsumen. Selama ini praktek tersebut mampu memenuhi tuntutan konsumen, namun membutuhkan suatu usaha tertentu berupa pencampuran bahan olah yang intensif dan seratus persen pengecekan terhadap hasil crumb rubber

      Guna meningkatkan kemudahan implementasi SNI Bokar, pemerintah kembali merevisi SNI bokar menjadi SNI 06-2047-2002 (Tabel 3.1) yang lebih memberi keleluasaan untuk persyaratan tebal dan metode koagulasi. Efektifitas pemberlakuan SNI bokar yang baru tersebut saat ini masih belum dapat teridentifikasi, diperlukan waktu yang cukup untuk memasyarakannya.

    Hasil Pengamatan Masalah Kontaminasi Pada Bahan Olah Karet

    1. Pengertian Kontaminan
    2. Lateks sebagai sumber pertama dari bahan baku crumb rubber sesungguhnya merupakan material alam yang sangat bersih, bahkan mengandung bahan-bahan yang berperan penting dalam menjaga mutunya agar tetap baik. Didalam lateks, selain hidrokarbon karet (polimer poliisoprena), terkandung juga berbagai senyawa penting antara lain lipid dan protein. Lipid berperan sebagai antioksidan, yakni bahan pencegah terjadinya oksidasi terhadap molekul karet. Sedangkan protein, selain berfungsi sebagai penstabil sistem koloid lateks juga berperan sebagai bahan yang mempercepat proses vulkanisasi pada pembuatan barang jadi karet. Masuknya kontaminan ke dalam karet, akan merusak bahan-bahan alami tersebut (Archer, et al., 1983).

      Kontaminasi terhadap sesuatu produk diartikan sebagai pencemaran. Dengan demikian kontaminan bisa didefinisikan sebagai zat pencemar, karena berdampak buruk terhadap mutu, seperti bersifat meracuni, produk menjadi cepat busuk, merusak tekstur, warna, rasa dan kerusakan mutu lainnya. Demikian pula untuk karet, kontaminan bisa menyebabkan karet mudah teroksidasi, memperlemah elastisitas, menurunkan kekuatan tarik, dan ketahanan sobek dari vulkanisatnya.

      Sebagai contoh kasus untuk karet, tawas sebagai koagulan bisa dianggap sebagai kontaminan, karena didalam tawas terkandung logam alkali yang bersifat sebagai pro-oksidan, serta berdampak menahan air yang memudahkan berkembangnya mikroorganisme pengurai protein dan hidrokarbon karet. Itulah sebabnya mengapa koagulan yang disarankan hingga kini adalah asam semut, asam cuka atau asam lemah lainnya. Koagulan-koagulan tersebut tidak berbahaya, bahkan meningkatkan mutu karena bersifat mendorong air/serum untuk segera keluar dari koagulum.

      Contoh lain yang sering terjadi di dalam bahan baku crumb rubber adalah sering masuknya pasir dan tatal ke dalam bokar secara sengaja maupun tidak disengaja. Untuk mengeluarkan kedua zat pengotor tersebut diperlukan serangkaian proses pengecilan dan pencucian yang banyak memerlukan air, listrik dan waktu proses. Dengan demikian, kontaminan tidak hanya berpengaruh langsung terhadap mutu produk, namun juga memerlukan biaya ekstra untuk membersihkannya.


    3. Jenis-Jenis Kontaminan Di Dalam Bokar
    4. Kontaminasi crumb rubber dapat berupa kontaminasi oleh pasir, tanah liat, tatal, potongan ranting, bahan penggumpal yang tidak disarankan (gadung dan pupuk), potongan kayu dari palet. Kontaminasi lain yang belakangan ini terjadi dan yang paling ditakuti oleh industri ban adalah kontaminasi oleh serat polipropilen, kompon lateks dan vulkanisat.
      Bahan-bahan kontaminan tersebut masuk ke dalam karet pada saat penyiapan dan penanganan bokar. Pada dasarnya, lateks yang keluar dari pohon karet adalah suatu bahan yang bersih (bebas dari kontaminan tersebut). Masuknya kontaminan ke dalam bokar dapat terjadi karena faktor kesengajaan atau akibat prosedur penggumpalannya tidak dilakukan secara hati-hati.

      1. Bahan-bahan kontaminan masuk ke dalam lateks atau karet, secara tidak sengaja akibat praktik penanganan dan pengolahan bahan olah yang kurang tepat, seperti penggumpalan lateks dalam lubang pada tanah, penyimpanan koagulum dalam semak berlumpur dan penggunaan bahan penggumpal dari parutan gadung dan umbi-umbian lain
      2. Kontaminasi yang terjadi sebagai ekses ikutan akibat penambahan bahan-bahan tertentu secara sengaja untuk mendapatkan keuntungan lebih dari penambahan bobot bokar. Penambahan tatal, penggunaan pupuk sebagai penggumpal, dan bahkan kaolin ke dalam lateks sehingga diperoleh bobot tambahan masih dipraktekkan, sekalipun hal ini dilarang menurut standar bokar
      3. Kontaminan yang paling ditakuti adalah kontaminan berupa serpihan serat polipropilen. Kontaminan ini berasal dari karung yang digunakan sebagai alat pengangkut bokar. Bagian karung yang rusak lengket pada lum atau ojol yang diangkut dan terbawa ke pabrik pengolahan karet. Pada saat pemecahan bahan olah dengan prebreaker dan hammer mill, serat plastik ini pecah menjadi serpihan kecil bercampur dengan potongan karet. Kontaminan ini sulit dipisahkan karena mengapung di air terbawa aliran bahan olah karet bila tidak terditeksi oleh petugas. Hal inilah yang sangat dikawatirkan oleh pihak prosesor crumb rubber.
      4. Selain selat polipropilen, akhir-akhir ini ditemukan pula kontaminan berupa limbah kompon dan limbah vulkanisat yang berasal dari barang jadi lateks seperti sisa-sisa (reject) karet busa, sarung tangan, balon putih dan vulkanisat barang jadi lateks lainnya. Kontaminan yang bersifat kimiawi ini sepintas menyerupai tampilan bokar sehingga sulit terdeteksi secara kasat mata.


      Kontaminan-kontaminan kelompok (a) dan (b) di atas sudah lama terjadi dan secara umum didapatkan di dalam bokar dari perkebunan rakyat. Kontaminan seperti pasir, kerikil, ranting, daun-daunan relatip mudah dihilangkan dengan peralatan pengolahan crumb rubber, walupun dengan konsekuensi diperlukan energi listrik dan air yang relatip banyak serta berakibat buruk terhadap limbah cairnya.
      Untuk kontaminan jenis (c) dan (d) tersebut di atas sulit bersatu dengan karet dan akan merupakan titik lemah. Pada produk ban, adanya titik lemah tersebut dapat menyebabkan ban sopek bahkan pecah/meletus pada saat digunakan. Hal ini sangat berbahaya bagi keselamatan penumpang, sekaligus berdampak buruk terhadap citra kualitas ban. Oleh karena itu, industri ban sangat khawatir terhadap adanya kontaminan ini.


    5. Penanggulangan Kontaminan
    6. Pabrik crumb rubber yang mengalami masalah kontaminan, untuk sementara ini telah melakukan beberapa cara penanggulangan, walaupun hasilnya belum optimal.

      1. Kontaminan tatal, pasir, tanah atau lumpur, secara teknis sudah bisa dipisahkan dengan peralatan-peralatan pabrik seperti pre-breaker, lump crusher, bak makroblending, dan hammer-mill atu granulator.
      2. Kontaminan vulkanisat umumnya berwarna putih dengan bentuk dan ukuran beragam, antara lain berupa serpihan, masip, lembaran tipis, menyerupai spons, dan lempengan setebal 1-3 cm. Berdasarkan tampilannya, diduga vulkanisat terebut adalah produk-produk reject atau sisa-sisa proses dari kegiatan pembuatan sarung tangan, karet busa, balon dan barang-barang lateks atau barang-barang karet padat dengan pengisi kaolin, kalsium karbonat atau silika.
      3. Kontaminan vulkanisat ada yang bisa langsung terdeteksi pada saat sortasi awal, jika warnanya abu-abu, atau tidak berwarna putih. Namun untuk yang berwrna putih sukar teramati jika tidak dilihat secara seksama
      4. Jika lolos pada tahap sortasi awal, kontaminan baru terdeteksi pada tahap pre-drying, dimana blanket dari bahan murni akan berubah warna dari putih menjadi coklat muda atau cokelat gelap akibat turunnya kadar air, sedangkan kontaminan vulkanisat tetap berwarna putih.
      5. Bagi pabrik yang telah menjalankan manajemen pengolahan secara akan melakukan tindakan untuk memisahkan blanaket yang tercemar tersebut, untuk mengeluarkan kontaminannya.
      6. Pekerjaan pemisahan kontaminan vulkanisat dari blanket sepenuhnya dilakukan secara manual, sehingga sangat melelahkan, menguras tenaga dan memerlukan biaya ekstra. Pekerjaan ini sangat beresiko tinggi, karena bersifat subyektif, sukar terjamin bahwa blanket hasil sortasi akan betul-betul terbebas dari kontaminan vulaknisat, terutama untuk kasus-kasus dimana kontaminan tersebut berukuran kecil dan menyebar merata di seluruh blanket.
      7. Beberapa pabrik di Sumut dan Sumsel telah mengeluarkan langkah preventip yang cukup berani, yakni akan menolak seluruh kiriman lump/sleb dari seseorang pedagang, jika pada sortasi awal ditemukan adanya kontaminan vulkanisat. Tindakan tersebut terpaksa diambil guna mencegah dampak yang lebih buruk, walapun dengan langkah itu akan beresiko kekurangan pasok bahan olah.




      Persyaratan Mutu Crumb Rubber

      Pada Tabel 4.1 disajikan Skema SIR yang merupakan Standar Mutu crumb rubber yang saat ini berlaku untuk karet remah produksi Indonesia. Crumb rubber tidak dapat dinilai secara visual, tetapi harus dinilai atas dasar spesifikasi teknis. Dengan demikian kekurangan-kekurangan dari penilaian visual dapat dihindarkan. Dengan spesifikasi teknis para konsumen karet dapat mengetahui secara obyektif sifat-sifat tertentu dari karet.

      Crumb rubber disebut juga sebagai SIR atau Standard Indonesian Rubber yaitu karet alam produksi Indonesia yang dijual dalam bentuk bongkahan dan mutunya dinilai berdasarkan spesifikasi teknis. Penilaian spesifikasi teknis didasarkan pada hasil analisis dari beberapa syarat uji yang ditetapkan untuk SIR yaitu penetapan kadar kotoran, kadar abu, kadar zat menguap, Po, serta PRI (Plasticity Retention Index), viskositas Mooney dan ASHT (Accelerated Storage Hardening Test).

      Kotoran yang terdapat dalam crumb rubber sangat merusak sifat-sifat dari barang jadi karet terutama ketahanan lentur dan ketahanan pemakaiannya. Sifat-sifat tersebut penting dalam menentukan mutu ban kendaraan bermotor, sehingga makin tinggi kadar kotoran crumb rubber, makin rendah mutunya

      Penentuan kadar abu dimaksudkan untuk menjamin agar karet mentah yang dijual tidak mengandung terlalu banyak bahan-bahan kimia yang banyak dipakai dalam proses pengolahan. Bila pencucian karet kurang bersih maka zat-zat kimia tersebut masih tertinggal dalam karet yang sudah menjadi crumb rubber dan tercermin dari tingginya kadar abu. Adanya pasir juga dapat diketahui dari kadar abu yang tinggi pula.

      Zat menguap dalam karet mentah sebagian besar terdiri dari uap air dan sisanya adalah zat –zat lain yang mudah menguap. Kadar zat menguap secara praktis adalah tidak lain penetapan kadar air karet mentah. Penentuan ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa karet yang dujual telah mengalami pengeringan yang sempurna.



    7. Kaitan Kontaminan Dan Mutu Crumb Rubber
    8. Sifat-sifat karet remah sebagaimana ditampilkan pada Tabel 4.2 sangat dipengaruhi oleh 2 faktor utama, yakni (a) Karakteristik bokar yang digunakan sebagai bahan baku crumb rubber, lateks pekat maupun karet RSS. dan (b) Jalannya proses pengolahan, mulai dari pengecilan ukuran, makroblending, pencampuran mikro di kreper, pre-drying, peremahan, hingga tahap pengeringannya.

      Karakteristik bokar sangat menentukan kualitas crumb rubber yang kelak akan dihasilkannya. Sebagai contoh, jika bokar yang digunakan ternyata banyak berisi kontaminan berupa tanah liat serta terlalu lama direndam di air, maka crumb rubber yang dihasilkannya kelak akan memiliki kadar abu serta kadar zat menguap atau white spot yang tinngi.. Jika suhu pengeringannya terlalu tinggi rendah dan waktunya sangat lambat, maka karet akan lengket dan PRI nya rendah, sehingga tidak standar mutu menurut skema SIR yang berlaku.

      Berikut adalah hasil identifikasi pengaruh karakteristik bahan olah dan faktor pengolahan terhadap kualitas crumb rubber yang dihasilknnya. Hasil penelitian Rama PS Rao (1974). Pocessing problems in SMR factories. Proced. RRIM Planters Conf., 278-290, menunjukkan berbagai kemungkinan faktor karakteristik bahan olah maupun faktor pengolahan yang menjadi penyebab terjadinya kegagalan produksi crumb rubber.


      Volatile Matter (Vm) Tinggi

      • Standar mutu crumb rubber (Skema SIR 2002) mensyaratkan kadar zat menguap (volatile matter, Vm) karet maksimum 0,8 persen. Kegagalan pemenuhan syarat kadar zat menguap pada produksi crumb rubber dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain koagulum yang digunakan sebagai bahan baku crumb rubber diperoleh dari lateks kebun yang diawetkan dengan ammonia dosis tinggi. Kadar amonia yang tinggi pada lateks kebun menyebabkan sebagian amonia terperangkap dalam koagulum. Amonia yang bersifat higroskopis dapat menahan air dalam remahan karet pada saat pengeringan, sehingga menyebabkan kadungan kadar zat menguap crumb rubber melebihi persyaratan yang tercantum dalam standar.
      • Kadar karet kering lateks yang tinggi menyebabkan koagulum yang diperoleh lebih keras. Koagulum yang keras, dibarengi dengan kondisi gilingan kreper yang tumpul dan ukuran remah yang relatif besar dapat menyebabkan air terperangkap pada sebagian remahan sehingga kadar zat menguap tinggi.
      • Kondisi burner dan kipas pengering yang tidak optimal bisa menyebabkan kegagalan pengeringan yang berakibat syarat Vm tidak terpenuhi.
      • Kegagalan lain bisa disebabkan proses pengeringan awal (pre drying) yang kurang sempurna. Pengeringan pada suhu tinggi dan waktu pengering berlebih juga dapat menyebabkan penurunan PRI crumb rubber.


      Po Rendah

      • Plastisitas awal (Po) menggambarkan kekuatan karet. Kegagalan pemenuhan syarat Po dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Bahan baku yang telah mengalami degradasi akibat perlakuan yang tidak tepat seperti perendaman dalam air, penggunaan formalin sebagai pengawet lateks kebun dan umur bahan olah yang terlalu lama dapat menyebabkan penurunan nilai Po.
      • Nilai Po rendah juga bisa disebabkan oleh pengeringan pada suhu terlalu tinggi (lebih dari 130 oC) dalam waktu yang lama dan pengeringan ulang karet yang kurang matang. Pemeraman dapat menyebabkan karet menjadi keras dengan disertai peningkatan nilai viskositas atau Po, serta penurunan PRI.
      • Nilai Po crumb rubber juga dipengaruhi oleh karakter bahan baku, yaitu lateks kebun. Lateks kebun dari klon yang berbeda memiliki nilai Po atau viskositas yang mungkin berbeda sebagaimana ditunjukkan oleh hasil penelitian pada table berikut.
      • Jenis bahan penggumpal berpengaruh baik terhadap nilai Po maupun ketahan karet terhadap pengusangan (PRI)



      PRI Rendah

      • PRI menggambarkan ketahanan karet terhadap proses pengusangan. Proses penggumpalan yang tidak tepat, seperti menggunakan bahan penggumpal tawas, pupuk atau asam sulfat dapat mengakibatkan karet tidak tahan proses pengusangan karena panas dan cahaya.
      • Koagulum yang diperoleh dari lateks encer (KKK rendah) cenderung menghasilkan crum rubber dengan PRI rendah, karena lateks encer menyebabkan semakin banyak bahan antioksidan alami tercuci dan terbuang. Pencemaran karet skim yang biasanya banyak mengandung bahan proksidan (Cu, Mn, Fe, Ca) ke dalam bahan olah untuk produksi crumb rubber bisa mengakibatkan penurunan PRI.
      • Hasil percobaan lain menunjukkan perlakuan penjemuran (sinar matahari), KKK, dosis amonia, lama predrying, jenis koagulan, garam oksida logam dan jumlah penggilingan dengan kreper berpengaruh nyata terhadap sifat pengusangan (PRI).
      • Penjemuran di bawah sinar matahari selama 6 jam bagi lum yang masih basah tidak terlalu berpengaruh terhadap nilai PRI crumb rubber yang dihasilkan. Tapi untuk lum yang telah kering, penjemuran dapat mengakibatkan nilai PRI menurun hingga hamper separuhnya.
      • Semakin encer lateks kebun sebagai bahan olah maka semakin rendah Po maupun PRI crumb rubber yang diperoleh. Pada pengolahan crumb rubber dengan bahan olah koagulum, biasanya lateks kebun digumpalkan atau dibiarkan menggumpal secara alami tanpa pengenceran
      • Penggunaan ammonia sebagai pengawet lateks kebun dengan dosis semakin tinggi mengakibatkan nilai Po semakin tinggi, namun PRI crumb rubber yang diperoleh semakin rendah. Pada pengolahan crumb rubber berbahan olah lum lapangan, penggunaan ammonia hampir tidak pernah dilakukan. Oksida logam seperti Cu, Fe dan Mn bersifat proksidan terhadap rantai molekul karet .
      • Perbaikan PRI dapat dilakukan dengan penambahan bahan kimia yang bersifat dapat mencegah oksidai selama proses pengering. Selain itu upaya perbaikan PRI dapat dilakukan melalui pencampuran dengan bahan olah bermutu baik. Beberapa jenis bahan olah memiliki nilai PRI yang cukup tinggi sehingga bisa dicampurkan dengan bahan olah lain agar mendapatkan crumb rubber dengan PRI yang memadai. Table berikut menunjukkan kisaran nilai PRI dari berbagai jenis bahan olah dan pengaruh lama predrying terhadap nilai PRI.


      Kadar Abu Tinggi

      • Kadar abu yang tinggi disebabkan karet banyak mengandung garam-garam oksida logam seperi kalsium, posfat, sulfat yang berasal dari kontaminan karet seperti kontaminasi oleh tanah, kaolin, penggunaan penggumpal tawas atau pupuk.
      • Bahan olah mutu rendah yang biasa diperoleh dari penggumpalan lateks dengan penggumpal tawas atau pupuk dan bahan penggumpal lain seperti air aki dan dibarengi dengan penyimpanan ditempat yang kotor, berair atau perendaman biasanya mengandung kadar abu tinggi. Crumb rubber yang dihasilkan dari bahan olah mutu rendah biasanya juga memperlihat nilao Po dan PRI yang rendah.


      Kadar Kotoran Tinggi

      • Penggunaan bahan olah mutu rendah, proses pencucian yang kurang memadai dan pencampuran (komposisi) bahan olah baik dan mutu rendah yang tidak tepat dapat mengakibatkan kadar kotoran crumb rubber tinggi.
      • Proses pencucian dengan air yang sudah kotor dan pembersihan lembaran karet dengan kreper yang kurang memadai dapat pula menyebabkan kadar kotoran tinggi.

    Teknik Deteksi Dini Kontaminasi

    1. Praktek Sortasi Awal
    2. Sortasi awal pada saat penerimaan bokar di pabrik crumb rubber terutama ditujukan untuk menaksir nilai kadar karet kering. Teknik sampling dengan mengambil hanya sedikit cuplikan masih sukar diterapkan, karena hasilnya tidak mewakili nilai rata-rata keseluruhuan bokar yang diterima. Hal ini disebabkan sangat beragamnya karakteristik bokar, baik bentuk/ukuran, maupun jenis dan komposisi kotorannya (Gambar 5.1).

      Pada Gambar 5.1. ditampilkan contoh-contoh bentuk bokar, dapat berupa lum lepas, lum rekat/ojol, sleb tipis, sleb tebal, sit angin, campuran scrap-ojol, dsb, dengan ukuran mulai dari serpihan hingga balok 20x30x60 cm. Demikian pula jenis dan lokasi kotoran yang terkadang menyebar, memusat di pinggir atau berkelompok di tengah

      Disebabkan sangat bervariasinya kondisi bokar (khususnya dari perkebunan karet rakyat), maka hingga saat ini belum ada metode yang cepat dan akurat untuk penentuan kemurnian kadar karet yang biasanya dinyatakan sebagai kadar karet kering (K3 atau KKK). Prosedur penentuan K3 yang pernah dicoba di lapangan adalah secara penggilingan dan pencacahan untuk mengeluarkan kotoran selanjutnya menimbang berat karet keringnya. Namun cara demikian kurang praktis karena memerlukan waktu yang lama untuk pencacahan maupun pengeringannya. Selain itu agar sampel ujinya cukup mewakili, diperlukan kondisi bokar dengan keseragaman yang cukup tinggi baik jenis, komposisi maupun distribusi kotorannya.

      Belum diperolehnya metode evaluasi mutu yang obyektif, menyebabkan hingga saat ini penentuan K3 masih bersifat subyektif yakni secara visual melalui pembelahan koagulum dan selanjutnya mengamati tingkat kekotorannya untuk memperkirakan kemurnian kadar karet kering. Koagulum yang basah dan banyak mengandung kotoran biasanya ditaksir berkadar karet kering yang rendah. Besarnya nilai K3 praktis ditentukan secara kompromistik yang tidak jarang bersifat sepihak dengan resiko menimbulkan ketidakpuasan bagi pihak pembeli maupun penjual.




      Makin besar penyimpangan terhadap K3, akan makin besar kerugian yang ditimbulkan. Sebagai contoh untuk pabrik karet remah yang berkapasitas 50 ton/hari, pada saat harga karet remah Rp 10.000,-/kg, maka kesalahan perhitungan yang hanya 1% dapat mendatangkan kerugian sekitar Rp 5.000.000,- setiap harinya

      Untuk mengatasi permasalahan di atas, agar hasil pengujian dapat diterima oleh berbagai pihak yang terlibat dalam transaksi jual beli bokar, diperlukan suatu metode penentuan mutu yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak lagi mengandalkan cara perkiraan dan taksiran.


    3. Deteksik Kontaminan Dengan Metode Ultrasonik
    4. Gelombang ultrasonik merupakan gelombang mekanik/akustik dengan frekuensi di atas 20 kHz, sehingga tidak terdengan oleh telinga manusia. Gelombang bunyi (sonik) memiliki daerah frekuensi 20 Hz sampai 20 kHz sehingga masih dapat didengar. Dibawah 20 Hz, manusia kembali tidak mampu menangkapnya. Gelombang akustik pada kondisi ini disebut infrasonik. Untuk menghasilkan gelombang ultrasonik diperlukan suatu transduser, dimana tegangan listrik yang diterima oleh transduser akan diubah menjadi gelombang mekanik.

      Aplikasi gelombang ultrasonik sudah sedemikian luas sejak dimulai penggunaanya pada PD II untuk mendeteksi kedalaman laut. Saat ini teknologi ultrasonik banyak digunakan di bidang-bidang Kedokteran, Geologi dan Industri. Kecepatan gelombang, amplitudo dan panjang gelombangnya di dalam medium yang dilewatinya berbeda satu dengan yang lain tergantung sifat-sifat elastis medium yang dilewatinya, sehingga gelombang ultrasonik disebut juga sebagai gelombang elastis. Sifat elastis ini tentu saja dipengaruhi oleh jenis bahan, komposisi, densitas dan sifat internal lainnya (Döring, 1998).

      Gelombang adalah penjalaran suatu gangguan (disturbance) melewati suatu medium dimana medium tersebut akan kembali ke kondisi semula setelah gangguan melewatinya. Medium yang dilewati bisa berupa material padat, cair atau gas, sedangkan gelombang yang menjalarinya dapat berupa gelombang mekanik seperti bunyi, getaran tali, dan riak permukaan air, atau gelombang eletromagnetik seperti gelombang radio, sinar IR dan UV.

      Pada saat gelombang merambat, medium yang dilewatinya akan mengalami getaran. Gelombang yang arah rambatannya tegak lurus terhadap arah getaran disebut sebagai gelombang transversal, sedangkan yang berarah sama dengan arah getarannya disebut sebagai gelombang longitudinal.

      Gelombang mekanik jika mengenai suatu medium akan mengalami perubahan arah atau penguraian, yakni kemungkinan gelombang akan dipantulkan dengan arah gelombang memenuhi hukum-hukum pemantulan, kemungkinan lain adalah gelombang akan diteruskan dan dibiaskan. Pembiasan tidak akan terjadi jika arah gelombang tegak lurus permukaan medium. Kecepatan gelombang, amplitudo dan panjang gelombangnya di dalam medium berbeda satu dengan yang lain tergantung sifat-sifat elastik medium yang dilewatinya, sehingga gelombang ultrasonik disebut juga sebagai gelombang elastik.

      Penelitian aplikasi Ultrasonik di Bidang Komposit-Polimer juga telah mulai banyak dilakukan, antaralain White, et al. (2002) melakukan percobaan untuk mengamati proses vulkanisasi senyawa DGEBA-DDS Epoksi dan komposit serat gelas dengan gelombang ultrasonik pada 1.85 MHz. Diperoleh informasi bahwa kecepatan gelombang longitudinal meningkat dengan kenaikkan suhu vulkanisasi. Kecepatan gelombang konstan pada pada saat polimer sudah berada pada kondisi termoset yang stabil. Penelitian serupa telah pula dicoba dilakukan oleh Doring dan Stark (1998) untuk resin Urea-Formaldehid, Melamin-Formaldehid, dan Epoksi.

      Selain untuk keperluan monitoring jalannya suatu proses, gelombang ultrasonikpun telah dicoba untuk keperluan sintesa. Levin, et al. (1996) melaporkan telah berhasil mensintesa unvulcanized rubber dengan cara devulkanisasi karet ban bekas, sedangkan Turkachinsky, et al. (1996) melakukan penelitian serupa namun untuk vulkanisat karet SBR pada 20 kHz sampai 50 kHz. Melalui proses devulkanisasi, ikatan-ikatan silang sulfur didegradasi, sehingga sebagian vulkanisat kembali ke kondisi sebelum tervulkanisasi. Ultrasonik juga dapat digunakan untuk mencari parameter elastik suatu bahan, seperti modulus Young, modulus geser, modulus bulk, dan perbandingan Poisson, antara lain telah dilakukan oleh Trombino (1998) untuk komposit tanah gambut, dengan menggunakan transduser 500 kHz, dan oleh Navarrete, et al. (1998) untuk campuran karet-silika pada 240 kHz.




    5. Deteksi Kontaminan Dengan Metode Kimia
    6. Gelombang Infra Red, salah satu ukuran panjang gelombangnya dikenal dengan nama FTIR. Cara kerja gelombang IR mirip dengan sinar X, hanya berbeda pada panjang gelombang dan amplitudo. FTIR dikenal sebagai teknik yang sering digunakan untuk mengamati jenis gugus fungsi molekul yang terkandung di dalam komposit, sehingga diharapkan bisa membedakan struktur molekul karet mentah dan kontaminan vulkanisat (Indian Rubber Institute. 1998).

      Kelebihan penggunaan metode NIR antara lain banyak komposisi kimia dari bahan pangan/pertanian yang menyerap (absorpsi) atau memantulkan (reflektan) cahaya pada rentang panjang gelombang 0.7-3 mm. Protein, air, asam, lemak, gula dan senyawa kimia lainnya memiliki pola serapan yang khas yang berbeda satu dengan lainnya pada setiap panjang gelombang cahaya. Perbedaan pola serapan tersebut terutama karena berbedanya geometri maupun jumlah atom yang terletak pada ikatan C-H, O-H, C-H-O atau N-H.

      Berdasarkan pertimbangan kemampuan metode NIR tersebut di atas, maka metode NIR berpotensi diaplikasikan untuk analisis komposis lateks maupun karet padat. Kemungkinan penyajian sampel ujinya harus cukup tipis agar pancaran gelombang elektromagnetiknya tidak banyak terserap oleh bahan.

      Jika karet telah mengalami vulkanisasi, maka akan terjadi perubahan struktul molekul. Namun perubahan tersebut tidak cukup bagi sinar infra-red untuk merubah pantulan gelombang elektromagnetiknya. Sehingga masih terdapat kemungkinan bahwa sinar IR belum dapat mendeteksi adanya kondungan kontaminan berupa vulkanisat di dalam bahan olah karet. Untuk memastikannya diperlukan percobaan laboratorium untuk menguji spektrum sinar IR yang melewati bahan olah karet yang bersih (kontrol) dan bahan olah karet yang terkontaminasi dengan vulkanisat.



    7. Deteksi Kontaminan Dengan Metode Kimia
    8. Teknik kimia gel-sulfur, merupakan teknik yang sederhana, sudah biasa digunakan untuk menganalisis kandungan bahan yang telah tervulkanisasi. Pada teknik ini dilakukan pelarutan sampel bokar dengan menggunakan solvent khusus. Selanjutnya diamati warna larutan, kekeruhan, dan ada tidaknya fraksi yang tidak terlarut.

      Jika di dalam bokar terkandung vulkanisat, maka kelak karet mentah akan larut sempurna, sedangkan vulkanisatnya akan menjadi gel yang tidak bisa larut, atau larutan menjadi keruh. Besarnya nilai gel content diharapkan menjadi petunjuk keberadaan kontaminan di dalam karet . Selain itu jika ditemukan bokar mengandung sulfur dalam jumlah tertentu, maka diindikasikan karet telah mengalami proses vulkanisasi (Gent, 1993).

      Deteksi kontaminan dengan menggunakan cara kimia bersifat sampling, sehingga di dalam prakteknya perlu dilakukan pengambilan contoh bokar cukup banyak agar hasil analisisnya kelak mampu mewakili keseluruhan bokar yang diterima oleh pabrik pengolahan crumb rubber.



    Sumber : http://kdei-taipei.org/banner/karet.htm

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More